DZIKIR di sini adalah ucapan Lã ilãha illã Allãh atau disebut juga kalimat Thoyibah dan disebut juga kalimat Ikhlas. Dalam Al Qur’an Allãh berfirman : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allãh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allãh-lah hati menjadi tenteram” [QS. : Ar Ra’d/13:28]. Nabi Muhammad saw bersabda : “Dzikir yang paling utama yang diucapkan olehku dan para nabi sebelum aku adalah Lã ilãha illã Allãh”. Kemudian beliau bersabda : “Siapa yang membaca Lã ilãha illã Allãh dengan ikhlas ia masuk surga”.
Dalam kitab Miftahus Shudur karya Syaikh K.H. Achmad Shohibulwafa Tadjul Arifin r.a. terdapat Fasal yang berjudul Syetan Merana Karena Dzikir kepada Allãh berikut cuplikannya :
Dalam kitab Al Fath Ar-Rabani Sayid Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. berkata : Wahai kaumku, buatlah syetan merana dengan ikhlas dalam berdzikir Lã ilãha illã Allãh, bukan sekedar mengucapkan saja. Nabi Muhammad saw bersabda “Buatlah syetan merana dengan dzikir Lã ilãha illã Allãh, Muhammad Rasũlullãh. Karena syetan sangat merana oleh dzikir tersebut sebagaimana seseorang diantara kamu membuat keledai menderita dengan memberi beban berlebih pada punggungnya”. Nabi Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadits yang populer : “Setiap orang darimu pasti ada syetan yang mengiringinya”. Para sahabat bertanya : “Apakah engkau juga ya Rasũlullãh” ?. Beliau menjawab : “Aku juga sama, hanya saja Allãh yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi telah menolongku menghadapinya”. Rasũlullãh saw juga bersabda : “Andai saja syetan-syetan dapat menyelami lubuk hati putra Adam, niscaya mereka dapat melihat malakut (kerajaan) langit dan bumi”. Demikianlah, sampai iblis, semoga laknat Allãh tertimpa kepadanya –sebagaimana dikutip dalam Al Qur’an : “Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at). [QS. Al-A’raf/7:16-17]. Allãh swt juga berfirman : “Siapa yang berpaling ari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya [QS. Al-Zukruf/43: 36]. Allãh swt juga berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allãh, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
Para ahli thariqat mengatakan : “Ucapan Lã ilãha illã Allãh, yang dilakukan dengan bimbingan Syaikh Mursidnya dalam jalan sufi, baik cara maupun jumlah yang telah ditentukan adalah benteng dari syetan, karena Nabi Muhammad saw bersabda : “Dzikir kepada Allãh adalah benteng dari syetan”.
Ketahuilah, alat paling utama yang digunakan untuk memerangi syetan dan menolak godaannya adalah kalimat ikhlas di atas dan dzikir seorang hamba kepada Tuhannya ‘azza wa jalla. Sebagaimana Rasũlullãh bersabda seraya meriwayatkan dari Tuhannya bahwa Allãh berfirman : “Lã ilãha illã Allãh adalah bentengku (untuk hamba Ku), siapa yang memasuki benteng tersebut, ia akan selamat dari adzab-Ku”. Allãh swt berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allãh, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” [QS. Al-A’raf/7:201]. Allãh ‘azza wa jalla memberitahu bahwa kebeningan hati adalah dengan dzikir kepada Allãh, dengan kebeningan hati penutup hati, kepekatan, ragu dan lalai hati akan sirna; dengannya pula segala petaka akan dijauhkan.
Dzikir adalah kunci takwa dan wara’, sedangkan takwa adalah pintu akhirat sebagaimana hawa nafsu adalah pintu dunia. Allãh swt berfirman “Dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa [QS. Al-Baqarah/2:62] Allãh yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi memberitahu bahwa manusia, dengan dzikir, dapat menjadi takwa kepada Allãh.
Perjuangan gigih melawan godaan syetan adalah bersifat perjuangan batin, yakni dengan hati dan Iman. Apabila engkau berjuang melawan godaan syetan, penolongmu adalah Allãh Yang Maha Rahman (Pengasih), tempat bergantungmu adalah Allãh Yang Maha Raja dan Maha Menguasai, harapanmu adalah melihat wajah Allãh Yang Maha Mulia dan Maha Memberi (di akhirat).
Dan, jihad berperang melawan syetan dan bujukan nafsu tidak mengenal akhir. Allãh swt berfirman : “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini [QS. Al-Hijr/15:99]. Yang dimaksud al-yaqin (yang diyakini) di atas adalah mati dan berjumpa dengan Allãh. Ketika pulang dari perang Tabuk, Nabi Muhammad saw bersabda : “Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar”. Yang dimaksud Rasũlullãh saw dengan jihad akbar (besar) adalah perang melawan syetan, bujukan nafsu dan hasrat diri yang tidak baik, karena perang berkesinambungan dan terus menerus, berlangsung lama, amat berbahaya, dan khawatir terjebak dalam sũ al-khãtimah (akhir hidup yang buruk).
Wahai saudara-saudaraku, tauhid membakar syetan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Sebab tauhid adalah api bagi syetan, dan cahaya bagi orang-orang yang bertauhid.
Bagaimana mungkin engkau mengucapkan Lã ilãha illã Allãh sementara di dalam hatimu terdapat banyak tuhan ?. Segala sesuatu yang engkau bersandar kepadanya dan engkau percayai selain Allãh adalah berhalamu. Tauhid (mengesakan Allãh) dengan lisan tak akan bermanfaat bagimu bila dibarengi syirik (menyekutukan Allãh) dengan hati. Bersih tubuh tidak bermanfaat bagimu bila dibarengi dengan najis (kotor) hati.
Orang yang bertauhid membuat syetan merana, sedangkan orang yang menduakan Allãh dibuat merana oleh syetan.
Ikhlas adalah lubb (esensi) ucapan dan perbuatan, karena tanpa esensi ucapan dan perbuatan laksana kulit tanpa isi. Kulit itu hanya layak untuk dibakar api. Simak ucapanku dan amalkan, karena ia akan dapat memadamkan api keserakahanmu, dan memecah duri nafsumu. Jangan hadiri suatu tempat yang dapat menyalakan api keserakahanmu, kelak rumah agama dan imanmu akan roboh karena ledakan tabi’at buruk, hawa nafsu dan syetan, lalu menyirnakan agama, iman dan keyakinanmu.
Ilmu itu harus diambil dari mulut para tokoh, tokoh-tokoh yang berjuang membela agama Allãh ‘azza wa jalla, yang bertakwa, yang meninggalkan maksiat, yang mewarisi akhlak para nabi, yang telah mencapai ma’rifah, yang mengamalkan ilmu, dan mukhlis.
Apa pun selain takwa adalah bodoh dan batil. Kewalian diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa baik di dunia maupun di akhirat, kewalian adalah fondasi dan bangunan mereka di dunia dan di akhirat.
Hakikat taubat adalah mengagungkan perintah Allãh Yang Maha Haq ‘azza wa jalla dalam situasi apa pun. Oleh karena itu, sebagian ulama sufi, semoga rahmat Allãh dicurahkan kepada mereka, berkata : “Seluruh kebaikan ada pada dua kalimat : mengagungkan perintah Allãh ‘azza wa jalla dan menyayangi Makhluk-Nya”. Setiap orang yang tidak mengagungkan perintah Allãh ‘azza wa jalla dan tidak menyayangi makhluk-Nya, maka ia jauh dari Allãh. Allãh swt berfirman : “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang teguh kepada tali (agama) Allãh dan tali (perjanjian) dengan manusia” [QS. Al-Imran/3:112].
Allãh hanya mencintai hamba-hamba-Nya yang bertakwa, bertaubat baik kepada sesama, dan bersabar. Bila engkau memiliki khatir (bisikan hati) yang benar, engkau akan mengenal mereka, mencintai mereka, dan menemani mereka. Tetapi khatir akan benar hanya ketika hati disinari cahaya ma’rifah kepada Allãh ‘azza wa jalla. Dan jangan bergantung kepada khatirmu sampai ma’rifahmu kepada Allãh benar dan menjelaskan mana yang baik dan benar.
Tutup pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan Allãh, kendalikan dirimu untuk tidak menuruti hawa nafsu, biasakan dirimu mengkonsumsi yang halal, pelihara batinmu dengan selalu muraqobah Allãh (menyadari bahwa Allãh selalu mengawasi), jaga batinmu dengan mengikuti sunnah Rasũlullãh, engkau akan memiliki khatir yang benar, dan ma’rifahmu kepada Allãh juga benar. Itulah yang mengembangkan akal dan hati. Adapun nafsu, tabi’at buruk dan adat tidak (mengembangkan akal dan hati), dan tidak pula dapat menghantarkan kita kepada karãmah.
Adapun tauhid (mengesakan Allãh) dengan Lã ilãha illã Allãh, siapa yang fisiknya menghadap kepada Allãh namun hatinya menghadap kepada selain Allãh, maka hatinya terhalang dari Allãh. Siapa yang berdzikir kepada Allãh namun hatinya mengingat bukan Allãh, maka ia terhalang oleh 1000 tirai penghalang. Sebab dzikir adalah amal yang menghimpun seluruh ahwal hati dan asrar (rahasia) segala upaya untuk medekatkan diri kepada Allãh, baik berupa maqom yaqin, musyahadah yang tampak, dan tangga menyingkap kegaiban. Dzikir adalah benteng Allãh yang paling agung, siapa yang memasukinya ia aman dari segala petaka lahir dan batin.
Prinsip dzikir adalah kelezatan dan kenikmatan. Bila khusyu’, linangan air mata, hati terbakar, dan jiwa tenggelam (dalam dzikir), itulah tanda al-fath (Allãh membuka hatimu). Selama pendzikir berdzikir, ia mendapatkan hal-hal yang aneh, asing rahasia-rahasia agung, dan kualitas yang agung.
Nabi Muhammad SAW bersabda : “Dzikir Lã ilãha illã Allãh tidak ada penghalang dari sisi Allãh sampai benar-benar ikhlas untuk Allãh”. Allãh SWT berfirman : “Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya” [QS. Al-An’am/ 6:91]. Kemudian tidak menggerakkan lidahnya dengan dzikir, tetapi pikirannya tetap bekerja. Ini adalah maqom ulama-ulama besar Sufi. Ada pembicaraan panjang lebar tentang hal itu.
Ketahuilah tawajjuh seperti ini sangat cepat menghasilkan fath (penyingkapan). Para ulama Sufi juga memperbanyak ibadah, menyibukkan diri bertawajuh kepada Allãh sampai dzikir membakar apa pun selain Allãh dalam hati mereka, dan berhenti berbuat maksiat. Apabila dibarengi dengan riyadhah (olah rohani), tidak diragukan lagi kesempurnaan agung akan tercapai dengan cepat. Nabi Muhammad SAW berkata : “Tidaklah seseorang berdzikir Lã ilãha illã Allãh dengan ikhal dari lubuk hatinya kecuali dibukakan baginya pintu-pintu langit sampai dzikir itu diangkat ke “arsy”.
Imam Ghazali, semoga Allãh meridloinya, membuktikan kebenaran jalan sufi secara faktual setelah ia juga membuktikan kebenarannya secara naqli (berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah). Imam Ghazali menjelaskan bahwa jalan ini telah ditempuh oleh para sahabat dan tabi’in, ia juga memaparkan sejumlah peristiwa dalam kehidupan para sahabat para wali, ra sufi, yang menunjukkan hal itu. Kemudian ia memberikan komentar bahwa cerita-cerita tersebut tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengingkarinya, selama ia belum menyaksikan sendiri.
Jalan Sufi mengedepankan mujahadah (berjauang gigih mengalahkan hawa nafsu), menghapus sifat-sifat tercela (dalam hati), memutus seluruh hubungan (dengan makhluk) untuk bertawajjuh dengan kemauan keras kepada Allãh SWT. Bila hal tersebut terwujud, maka Allãh akan menangani hati hamba-hambanya, dan menjamin pencerahan hatinya dengan cahaya ilmu. Bila Allãh sendiri yang menangani urusan hati, rahmat-Nya akan tercurah melimpah memenuhi hati, padanya hakekat urusan ketuhanan akan berkilau. Oleh karena itu, seorang hamba Allãh tak ada jalan lain kecuali bersiap-siap membersihkan hatinya secara total, menghadirkan cita-cita yang agung dan keinginan yang sungguh-sungguh, merasakan haus yang amat sangat, dan selalu menantikan rahmat yang Allãh akan kucurkan kepadanya. Para Nabi, para wali dan semisalnya, tersingkapnya berbagai persoalan pada mereka, dan melimpahnya cahaya pada hati mereka tidak dengan belajar, mengkaji atau menulis banyak buku, tetapi dengan zuhud di dunia, melepaskan diri dari ikatan ikatan dunia, mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkan hati pada dunia, dan menghadap kepada Allãh dengan keagungan cita-cita. Siapa yang mempersembahkan hidupnya untuk Allãh, maka pertolongan Allãh pun akan ia peroleh.
Hujjah al-islam, Imam Ghazali, semoga Allãh merahmatinya, juga berkata : “Yang paling khusu dari jalan Sufi ini adalah bahwa ia tak dapat dicapai hanya dengan belajar, tetapi dengan dzauq (merasakan dan mengalami sendiri), ahwal (pindah dari satu keadaan spiritual ke tingkat yang lebih baik), dan transformasi (pergantian) sifat yang buruk ke sifat yang lebih baik. Dan bahwa para Sufi sangat yakin bahwa merekalah yang memiliki jalan Allãh SWT secara khusus, bahwa jalan hidup yang meraka tempuh adalah jalan hidup terbaik, jalan mereka adalah jalan yang paling tepat, akhlak mereka adalah akhlak yang paling bersih. Bahkan andai dihimpun semua kecerdasan para cerdik cendekia, kebijakan orang-orang bijak, ilmunya para ulama yang berpijak kokoh di atas rahasia-rahasia syari’ah untuk mengubah jalan hidup dan akhlak mereka dan menggantinya dengan yang lebih baik niscaya mereka tak akan menemukan jalan untuk itu. Karena seluruh gerak dan diam mereka, baik lahir maupun batin, merupakan percikan cahaya miskat kenabian. Dan di belakang cahaya kenabian di muka bumi ini tak ada lagi cahaya yang dapat dijadikan penerang hidup. Ringkasnya, apa yang dapat dikatakan orang-orang tentang thareqat adalah bahwa kesuciannya, yang merupakan syarat awalnya, adalah mensucikan hati secara menyeluruh dari apapun selain Allãh SWT; kuncinya, yang berfungsi sebagai takbiratul ihrom dalam salat, adalah tenggelamnya hati secara total dalam dzikir kepada Allãh, dan akhirnya adalah fana’ secara total dalam Allãh berdasarkan firman Allãh dalam al-Qur’an yang agung : “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” [QS. Al-Rahman/ 55: 26-27]. Juga firman-Nya : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allãh”. [QS. Al-Qoshash/ 28: 28].
Diambil dari kitab Miftahus shudur pada Fasal 6 yang terdapat pada halaman 115 s.d 139. semoga bermanfaat.
Recent Comments