Hanya Rp. 72.000,- termasuk ongkos kirim seluruh wilayah Indonesia

Syetan Merana Karena Dzikir kepada Allah (bagian 3)

Prinsip dzikir adalah kelezatan dan kenikmatan. Bila khusyu’, linangan air mata, hati terbakar, dan jiwa tenggelam (dalam dzikir), itulah tanda al-fath (Allãh membuka hatimu). Selama pendzikir berdzikir, ia mendapatkan hal-hal yang aneh, asing rahasia-rahasia agung, dan kualitas yang agung.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Dzikir Lã ilãha illã Allãh tidak ada penghalang dari sisi Allãh sampai benar-benar ikhlas untuk Allãh”. Allãh SWT berfirman : “Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya” [QS. Al-An'am/ 6:91]. Kemudian tidak menggerakkan lidahnya dengan dzikir, tetapi pikirannya tetap bekerja. Ini adalah maqom ulama-ulama besar Sufi. Ada pembicaraan panjang lebar tentang hal itu.

Ketahuilah tawajjuh seperti ini sangat cepat menghasilkan fath (penyingkapan). Para ulama Sufi juga memperbanyak ibadah, menyibukkan diri bertawajuh kepada Allãh sampai dzikir membakar apa pun selain Allãh dalam hati mereka, dan berhenti berbuat maksiat. Apabila dibarengi dengan riyadhah (olah rohani), tidak diragukan lagi kesempurnaan agung akan tercapai dengan cepat. Nabi Muhammad SAW berkata : “Tidaklah seseorang berdzikir Lã ilãha illã Allãh dengan ikhal dari lubuk hatinya kecuali dibukakan baginya pintu-pintu langit sampai dzikir itu diangkat ke “arsy”.

Imam Ghazali, semoga Allãh meridloinya, membuktikan kebenaran jalan sufi secara faktual setelah ia juga membuktikan kebenarannya secara naqli (berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah). Imam Ghazali menjelaskan bahwa jalan ini telah ditempuh oleh para sahabat dan tabi’in, ia juga memaparkan sejumlah peristiwa dalam kehidupan para sahabat para wali, para sufi, yang menunjukkan hal itu. Kemudian ia memberikan komentar bahwa cerita-cerita tersebut tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengingkarinya, selama ia belum menyaksikan sendiri.

Jalan Sufi mengedepankan mujahadah (berjauang gigih mengalahkan hawa nafsu), menghapus sifat-sifat tercela (dalam hati), memutus seluruh hubungan (dengan makhluk) untuk bertawajjuh dengan kemauan keras kepada Allãh SWT. Bila hal tersebut terwujud, maka Allãh akan menangani hati hamba-hambanya, dan menjamin pencerahan hatinya dengan cahaya ilmu. Bila Allãh sendiri yang menangani urusan hati, rahmat-Nya akan tercurah melimpah memenuhi hati, padanya hakekat urusan ketuhanan akan berkilau. Oleh karena itu, seorang hamba Allãh tak ada jalan lain kecuali bersiap-siap membersihkan hatinya secara total, menghadirkan cita-cita yang agung dan keinginan yang sungguh-sungguh, merasakan haus yang amat sangat, dan selalu menantikan rahmat yang Allãh akan kucurkan kepadanya. Para Nabi, para wali dan semisalnya, tersingkapnya berbagai persoalan pada mereka, dan melimpahnya cahaya pada hati mereka tidak dengan belajar, mengkaji atau menulis banyak buku, tetapi dengan zuhud di dunia, melepaskan diri dari ikatan ikatan dunia, mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkan hati pada dunia, dan menghadap kepada Allãh dengan keagungan cita-cita. Siapa yang mempersembahkan hidupnya untuk Allãh, maka pertolongan Allãh pun akan ia peroleh.

Hujjah al-islam, Imam Ghazali, semoga Allãh merahmatinya, juga berkata : “Yang paling khusu dari jalan Sufi ini adalah bahwa ia tak dapat dicapai hanya dengan belajar, tetapi dengan dzauq (merasakan dan mengalami sendiri), ahwal (pindah dari satu keadaan spiritual ke tingkat yang lebih baik), dan transformasi (pergantian) sifat yang buruk ke sifat yang lebih baik. Dan bahwa para Sufi sangat yakin bahwa merekalah yang memiliki jalan Allãh SWT secara khusus, bahwa jalan hidup yang meraka tempuh adalah jalan hidup terbaik, jalan mereka adalah jalan yang paling tepat, akhlak mereka adalah akhlak yang paling bersih. Bahkan andai dihimpun semua kecerdasan para cerdik cendekia, kebijakan orang-orang bijak, ilmunya para ulama yang berpijak kokoh di atas rahasia-rahasia syari’ah untuk mengubah jalan hidup dan akhlak mereka dan menggantinya dengan yang lebih baik niscaya mereka tak akan menemukan jalan untuk itu. Karena seluruh gerak dan diam mereka, baik lahir maupun batin, merupakan percikan cahaya miskat kenabian. Dan di belakang cahaya kenabian di muka bumi ini tak ada lagi cahaya yang dapat dijadikan penerang hidup. Ringkasnya, apa yang dapat dikatakan orang-orang tentang thareqat adalah bahwa kesuciannya, yang merupakan syarat awalnya, adalah mensucikan hati secara menyeluruh dari apapun selain Allãh SWT; kuncinya, yang berfungsi sebagai takbiratul ihrom dalam salat, adalah tenggelamnya hati secara total dalam dzikir kepada Allãh, dan akhirnya adalah fana’ secara total dalam Allãh berdasarkan firman Allãh dalam al-Qur’an yang agung : “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” [QS. Al-Rahman/ 55: 26-27]. Juga firman-Nya : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allãh”. [QS. Al-Qoshash/ 28: 28].

Diambil dari kitab Miftahus shudur pada Fasal 6 yang terdapat pada
halaman 115 s.d 139. semoga bermanfaat.

Translator
Indonesian flagEnglish flagFrench flagArabic flagFilipino flagSerbian flagThai flagTurkish flag                                  
By N2H