Archive for the ‘cerita sufi’ Category
Zuhud
Oleh : Bambang Dwi Atmoko

ZUHUD atau bersahaja adalah merupakan sikap hidup yang diajarkan oleh Nabi besar Muhammad saw dan beliau telah mencontohkan kepada kita, sepanjang hidup beliau sangat bersahaja (zuhud), jauh dari kemewahan senantiasa dekat dengan faqir miskin dan anak yatim serta sangat toleran terhadap semua hamba-hamba Allah. Firman Allah dalam Al Qur’an : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari dari berdzikir kepada Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi” [QS. Al Munafiqun /63:9]. Dan sebuah hadits meriwayatkan sebagai berikut : Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia”. Rasulullah Saw menjawab, “Hiduplah di dunia dengan zuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” [HR. Ibnu Majah]. Do’a beliau : “Ya Allah, langsungkan hidupku dalam kemiskinan dan wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan pula aku kembali dalam kelompok orang-orang miskin”. [HR. Bukhari].
Berikut ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang seperti apa kehidupan yang bersahaja (zuhud) itu, yang pernah disampaikan oleh ulama thareqat (TQN) pada acara kuliah subuh menjelang acara Manaqib.
Tersebutlah seorang pemuda, sebut saja “Darsin” namanya, ia sudah lama belajar dan nyantri di sebuah pondok milik Kiyai Sobirin, seorang kiyai yang terkenal sangat bersahaja, sholeh dan sabar serta jujur. Kiyai Sobirin senang sekali mencari ikan di laut yang letaknya memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selepas melaksanakan aktifitasnya di madrasah, beliau bergegas pergi kelaut untuk mencari ikan dengan menggunakan perahu kecil atau yang biasa disebut jungkung, hasil tangkapannya selalu banyak dan besar-besar, ikan-ikan tersebut tidak dibawa ke tempat pelelangan ikan yang ada di sekitar pantai tersebut namun sebagian dibagikan kepada tetangganya dan sebagian lagi untuk lauk makan para santrinya, beliau mengambil untuk dirinya hanya dua atau tiga potong itupun bagian kepala, hal semacam ini beliau lakukan setiap hari. Darsin selalu memperhatikan perilaku Kiyai Sobirin tersebut, “betapa zuhudnya guruku ini, susah payah setiap hari mencari ikan namun ia hanya sedikit saja menikmati hasilnya, ia lebih senang membagi-bagikan kepada tetangga dan para santri” katanya dalam hati.
Dari kekagumannya itu akhirnya Darsin ingin mencari tau di manakah beliau belajar sehingga memiliki sikap yang sangat bersahaja (zuhud)dan sangat dermawan. Sehingga suatu hari Darsin memberanikan diri untuk bertanya : “Pak kiyai, dimanakah engkau belajar, sehingga engkau memiliki sikap yang sangat terpuji”. Jawab Kiyai Sobirin “aku belajar pada Tuan Guru Mursid, seorang ulama thareqat yang sangat mumpuni, tempat tinggal beliau jauh dari sini, beliau tinggal di lereng sebuah gunung, untuk menuju kesana dibutuhkan waktu perjalanan kurang lebih satu minggu”. Mendengar penjelasan gurunya Darsin semakin ingin mendatangi tempat Tuan Guru Mursid dan menimba ilmu dariya : “Sekiranya pak kiyai mengijinkan, bolehkah aku menemui Tuan guru itu, saya ingin belajar kepadanya” demikian permohonannya. Dengan senang hati Kiyai Sobirin mengijinkan muridnya itu “Boleh… boleh… silahkan temui beliau dan belajarlah kamu padanya, sekiranya engkau tekun dan berkhidmat padanya niscaya kamu berhasil”.
Setelah melakukan persiapan termasuk menyiapkan bekal untuk di perjalanan, maka Darsin pamit dan mohon restu kepada gurunya. “Jangan lupa salam saya untuk Tuan Guru” kata Kiyai Sobirin. Dengan tekad yang sudah bulat dan semangat belajar yang berapi-api kemuian Darsin berangkat menuju ke tempat di mana gurunya pernah belajar dengan berjalan kaki, dalam benaknya hanya ada satu yaitu mencari ilmu pada Tuan Guru Mursid.
Sepanjang hari ia berjalan, bila matahari mulai menghilang di sisi sebelah barat ia mencari tempat untuk sekedar bermalam dan melepas penat dengan merebahkan badan hingga terlelap. Kemuian keesokan paginya selepas subuh ia mulai lagi dengan berjalan kaki menyusuri jalan kampung, pematang sawah, ladang, dan menyusuri jalan setapak di tengah hutan, daerah tersebut masih asing baginya, sehingga sering kali ia ragu untuk menentukan jalan yang mana yang harus ia lalui ketika bertemu dengan jalan simpang.
. . . . . . . . . . . . . . .












