Archive for the ‘Uncategorized’ Category
Syetan Merana Karena Dzikir kepada Allah (bagian 2)
oleh : Bambang Dwi Atmoko
Dan, jihad berperang melawan syetan dan bujukan nafsu tidak mengenal akhir. Allãh swt berfirman : “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini [QS. Al-Hijr/15:99]. Yang dimaksud al-yaqin (yang diyakini) di atas adalah mati dan berjumpa dengan Allãh. Ketika pulang dari perang Tabuk, Nabi Muhammad saw bersabda : “Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar”. Yang dimaksud Rasulullãh saw dengan jihad akbar (besar) adalah perang melawan syetan, bujukan nafsu dan hasrat diri yang tidak baik, karena perang berkesinambungan dan terus menerus, berlangsung lama, amat berbahaya, dan khawatir terjebak dalam s? al-khãtimah (akhir hidup yang buruk).
Wahai saudara-saudaraku, tauhid membakar syetan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Sebab tauhid adalah api bagi syetan, dan cahaya bagi orang-orang yang bertauhid.
Bagaimana mungkin engkau mengucapkan Lã ilãha illã Allãh sementara di dalam hatimu terdapat banyak tuhan ?. Segala sesuatu yang engkau bersandar kepadanya dan engkau percayai selain Allãh adalah berhalamu. Tauhid (mengesakan Allãh) dengan lisan tak akan bermanfaat bagimu bila dibarengi syirik (menyekutukan Allãh) dengan hati. Bersih tubuh tidak bermanfaat bagimu bila dibarengi dengan najis (kotor) hati.
Orang yang bertauhid membuat syetan merana, sedangkan orang yang menduakan Allãh dibuat merana oleh syetan. Ikhlas adalah lubb (esensi) ucapan dan perbuatan, karena tanpa esensi ucapan dan perbuatan laksana kulit tanpa isi. Kulit itu hanya layak untuk dibakar api. Simak ucapanku dan amalkan, karena ia akan dapat memadamkan api keserakahanmu, dan memecah duri nafsumu. Jangan hadiri suatu tempat yang dapat menyalakan api keserakahanmu, kelak rumah agama dan imanmu akan roboh karena ledakan tabi’at buruk, hawa nafsu dan syetan, lalu menyirnakan agama, iman dan keyakinanmu.
Ilmu itu harus diambil dari mulut para tokoh, tokoh-tokoh yang berjuang membela agama Allãh ‘azza wa jalla, yang bertakwa, yang meninggalkan maksiat, yang mewarisi akhlak para nabi, yang telah mencapai ma’rifah, yang mengamalkan ilmu, dan mukhlis.
Apa pun selain takwa adalah bodoh dan batil. Kewalian diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa baik di dunia maupun di akhirat, kewalian adalah fondasi dan bangunan mereka di dunia dan di akhirat.
Hakikat taubat adalah mengagungkan perintah Allãh Yang Maha Haq ‘azza wa jalla dalam situasi apa pun. Oleh karena itu, sebagian ulama sufi, semoga rahmat Allãh dicurahkan kepada mereka, berkata : “Seluruh kebaikan ada pada dua kalimat : mengagungkan perintah Allãh ‘azza wa jalla dan menyayangi Makhluk-Nya”. Setiap orang yang tidak mengagungkan perintah Allãh ‘azza wa jalla dan tidak menyayangi makhluk-Nya, maka ia jauh dari Allãh. Allãh swt berfirman : “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang teguh kepada tali (agama) Allãh dan tali (perjanjian) dengan manusia” [QS. Al-Imran/3:112].
Allãh hanya mencintai hamba-hamba-Nya yang bertakwa, bertaubat baik kepada sesama, dan bersabar. Bila engkau memiliki khatir (bisikan hati) yang benar, engkau akan mengenal mereka, mencintai mereka, dan menemani mereka. Tetapi khatir akan benar hanya ketika hati disinari cahaya ma’rifah kepada Allãh ‘azza wa jalla. Dan jangan bergantung kepada khatirmu sampai ma’rifahmu kepada Allãh benar dan menjelaskan mana yang baik dan benar.
Tutup pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan Allãh, kendalikan dirimu untuk tidak menuruti hawa nafsu, biasakan dirimu mengkonsumsi yang halal, pelihara batinmu dengan selalu muraqobah Allãh (menyadari bahwa Allãh selalu mengawasi), jaga batinmu dengan mengikuti sunnah Rasulullãh, engkau akan memiliki khatir yang benar, dan ma’rifahmu kepada Allãh juga benar. Itulah yang mengembangkan akal dan hati. Adapun nafsu, tabi’at buruk dan adat tidak (mengembangkan akal dan hati), dan tidak pula dapat menghantarkan kita kepada karãmah.
Adapun tauhid (mengesakan Allãh) dengan Lã ilãha illã Allãh, siapa yang fisiknya menghadap kepada Allãh namun hatinya menghadap kepada selain Allãh, maka hatinya terhalang dari Allãh. Siapa yang berdzikir kepada Allãh namun hatinya mengingat bukan Allãh, maka ia terhalang oleh 1000 tirai penghalang. Sebab dzikir adalah amal yang menghimpun seluruh ahwal hati dan asrar (rahasia) segala upaya untuk medekatkan diri kepada Allãh, baik berupa maqom yaqin, musyahadah yang tampak, dan tangga menyingkap kegaiban. Dzikir adalah benteng Allãh yang paling agung, siapa yang memasukinya ia aman dari segala petaka lahir dan batin.
. . . . . . . . . bersambung












