<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>CAHAYA KALBU</title>
	<atom:link href="http://cahayakalbu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahayakalbu.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 02:10:42 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kunci Pembuka Hati</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/kunci-pembuka-hati/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/kunci-pembuka-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 04:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<category><![CDATA[dzikir]]></category>

		<category><![CDATA[miftahus shudur]]></category>

		<category><![CDATA[pembuka hati]]></category>

		<category><![CDATA[talqin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Bambang Dwi Atmoko

KUNCI PEMBUKA HATI, kitab yang ditulis oleh K.H. Achmad Shohibulwafa Tadjul Arifin r.a. ini adalah kitab yang membahas perkara dzikir baik tatacara dzikir maupun dampak yang dihasilkan oleh dzikir. Dengan dzikir manusia dapat membersihkan diri terutama dari noda syirik baik syirik jally (menyekutukan Allah secara jelas atau nyata) maupun syirik khafiy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong></p>
<div id="attachment_103" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><strong></strong><strong><img class="size-full wp-image-103" title="kunci-pembuka-hati" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/kunci-pembuka-hati.jpg" alt="Kunci Pembuka Hati" width="120" height="170" /></strong><p class="wp-caption-text">Kunci Pembuka Hati</p></div>
<p style="text-align: justify;">KUNCI PEMBUKA HATI, kitab yang ditulis oleh K.H. Achmad Shohibulwafa Tadjul Arifin r.a. ini adalah kitab yang membahas perkara dzikir baik tatacara dzikir maupun dampak yang dihasilkan oleh dzikir. Dengan dzikir manusia dapat membersihkan diri terutama dari noda syirik baik syirik jally (menyekutukan Allah secara jelas atau nyata) maupun syirik khafiy (menyekutukan Allah secara samar) dan membersihkan penyakit-penyakit hati lainnya. Dalam buku ini beliau menulis antara lain : Hati itu berkarat, dan bila manusia membiarkannya berkarat seperti dijelaskan Rasulullah saw, maka hati berubah menjadi hitam. Hati menghitam karena jauh dari cahaya, hati menghitam karena cinta yang berlebih kepada dunia, ingin memiliki dunia tanpa <em>wara&#8217;</em> &#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan beliau yang lainnya : Ketahuilah tawajjuh seperti ini sangat cepat menghasilkan <em>fath</em> (penyingkapan). Para ulama sufi juga memperbanyak ibadah, menyibukan diri bertawajjuh kepada Allah sampai dzikir membakar apa pun selain Allah dalam hati mereka, dan berhenti berbuat maksiat. Apabila dibarengi dengan riyadhah (oleh rohani), tidak diragukan lagi kesempurnaan agung akan tercapai dengan cepat. Nabi Muhammad saw bersabda : &#8220;tidaklah seseorang berdzikir Laa ilaaha Illaa Allaah dengan ikhlas dari lubuk hatinya kecuali dibukakan baginya pintu-pintu langit sampai dzikir itu diangkat ke &#8216;arsy&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini terdiri dari Muqaddimah dan 6 fasal yaitu : Hakekat Dzikir Nafyi dan Isbat; Cara Dzikir Jahr (suara keras); Prinsip Talqin dan Janji Setia; Keharusan Menyebut Sanad Yang Sampai ke Rasulullah di semua Thariqat; Dzikrullah dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan Rohani; Syetan Merana karena Dzikir kepada Allah;</p>
<p style="text-align: justify;">Kitab kecil berbahasa Arab yang memiliki judul asli MIFTAHUS SHUDUR ini sebelumnya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Bapak Profesor Dr. Abubakar Atjeh yaitu pada tahun 1969. Kemudian pada tahun 2004 kitab ini kembali diterjemahkan oleh Bapak Drs. Anding Mujahidin M.Ag. Pada Kitab MIFTAHUS SHUDUR edisi baru ini disajikan dalam dua bahasa (menampilkan bahasa aslinya). Penerbit Kitab MIFTAHUS SHUDUR adalah Laksana Utama.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/kunci-pembuka-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Segala Rahasia</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/rahasia-segala-rahasia/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/rahasia-segala-rahasia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 03:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<category><![CDATA[Tasawwuf]]></category>

		<category><![CDATA[Thariqat]]></category>

		<category><![CDATA[Buku Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[REVIEW
oleh : Bambang Dwi Atmoko
Rahasia segala Rahasia, Buku yang terdiri dari dua puluh empat fasal ini ditulis oleh Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. antara abad ke 5 - 6 hijriyah atau kurang lebih pada abad ke 9 masehi. Pada edisi pertama kami terbitkan dalam dua jilid (jilid 1 dan 2) namun karena banyak fihak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>REVIEW</h2>
<p><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<div id="attachment_41" class="wp-caption alignleft" style="width: 158px"><em><strong><em><strong><img class="size-medium wp-image-41" title="rahasia-segala-rahasia" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/rahasia-segala-rahasia-212x300.jpg" alt="Rahasia Segala Rahasia" width="148" height="210" /></strong></em></strong></em><p class="wp-caption-text">Rahasia Segala Rahasia</p></div>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Rahasia segala Rahasia</strong></em>, Buku yang terdiri dari dua puluh empat fasal ini ditulis oleh Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. antara abad ke 5 - 6 hijriyah atau kurang lebih pada abad ke 9 masehi. Pada edisi pertama kami terbitkan dalam dua jilid (jilid 1 dan 2) namun karena banyak fihak yang mengharapkan kemudahan memperoleh buku secara utuh, maka pada terbitan edisi ke dua buku yang membahas ajaran tasawwuf ini kami jadikan satu jilid.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. adalah seorang ulama Thariqat yang sangat termasyhur, banyak kitab yang telah beliau tulis. Di dalam muqadimah kitab Rahasia segala Rahasia ini beliau menuliskan antara lain : &#8220;Para ulama menjadi hamba-hamba Allah yang khowas, yang dipilih Allah (untuk meninggikan) citra agama-Nya, diberi petunjuk oleh Allah kepada agama dengan karunia sebagai kelebihannya, kemudian Allah mendahulukan dan memilih mereka. Para ulama adalah pewaris dan pengganti para nabi, pemimpin dan &#8216;urafa (yang sudah sampai ke tingkat ma&#8217;rifah Allah) kaum muslimin, sebagai mana firman Allah ta&#8217;ala <em>&#8220;Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang zalim linafsih (menganiaya diri sendiri) dan di antara mereka ada yang muqtasid (pertengahan) dan di antara mereka ada (pula) yang sabiq bil khairat (lebih dahulu berbuat baik) </em>[Q.S: Fathir/35 : 2]. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda : &#8220;Para ulama adalah pewaris para nabi dengan ilmu, mereka dicintai langit, ikan-ikan di laut memohon ampun kepada Allah untuk mereka sampai hari kiamat&#8221;. Rasulullah saw bersabda &#8220;Allah membangkitkan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat, kemudian membedakan para ulama. Allah ta&#8217;ala lalu berfirman <em>&#8220;Wahai para ulama, Aku tidak letakkan ilmu-Ku kecuali karena Aku maha Mengetahui keadaan dirimu, Aku tidak berikan ilmu pada kalian untuk menyiksa kalian. Berangkatlah ke surga, karena Aku telah mengampuni kalian&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Segala puji bagi Allah atas segala keadaan, yang telah menjadikan surga berupa derajat yang menjadi bagian bagi kaum &#8216;abidin, dan surga berupa <em>&#8220;qurbah&#8221; </em>(keterdekatan) bagi kaum &#8216;arifin.</p>
<p style="text-align: justify;">Amma ba&#8217;du</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Allah menciptakan ruh Muhammad saw pertama kali dari cahaya keindahan-Nya sebagaimana firman Allah dalam hadits Qudsi : &#8220;Aku ciptakan pertama kali Muhammad dari cahaya wajah-Ku&#8221;. Juga sabda Rasulullah saw : &#8220;Yang pertama kali Allah ciptakan adalah ruhku. Yang pertama kali Allah ciptakan cahayaku. Yang pertama kali Allah ciptakan pena. Yang pertama kali Allah ciptakan adalah akal&#8221;. Yang dimaksud dari semuanya adalah satu, yakni hakikat Muhammadiyah. Tetapi :</p>
<p style="text-align: justify;">Ia disebut <strong>cahaya</strong> karena bersih dari <em>zulmaniyah jalaliyah.</em> Sebagai firman Allah <em>&#8220;Telah datang kepada dari Allah cahaya dan al-Kitab </em>[Q.S: Al-Maidah/5 : 15]; Ia juga disebut <strong>akal</strong> karena dapat memahami <em>kuliiyat</em> (segala yang bersifat universal); Juga disebut <strong>pena</strong> karena ia merupakan media untuk transfer ilmu sebagaimana pena merupakan media transfer ilmu dalam alam huruf. Jadi <em>ruh Muhammadiy</em> merupakan intisari alam raya, awal dan pangkal segala makhluk, sebagaimana sabda Rasulullah saw : &#8220;Aku dari Allah, dan orang-orang yang beriman dariku&#8221;. Dari <em>ruh Muhammadiy</em> ini diciptakanlah semua ruh di alam <em>Lahut</em> dalam bentuk hakiki yang paling baik, yakni nama <em>hajalah al-uns</em> di alam tersebut, yaitu negeri asal. Setelah 4000 tahun berlalu, Allah menciptakan <em>&#8216;arsya </em>dari <em>nur &#8216;aini </em>(cahaya jiwa) Muhammad saw, sedangkan <em>kuliiyat</em> yang lainnya diciptakan darinya. Ruh-ruh itu dikembalikan ke kerak dasar <em>kainat</em> (alam raya) yakni jasad, seperti firman Alla : <em>&#8220;kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya&#8221;. . . . . . . . . . .</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari dua pulum empat fasal, dua belas diantaranya adalah Penjelasan tentang kembalinya manusia ke negeri asalnya; Penjelasan tentang dikembalikannya manusia ke derajat terendah; Penjelasan tempat ruh di dalam jasad; Penjelasan tentang jumlah ilmu; Penjelasan taubat dan talkin; Penjelasan tentang ahli tasawwuf; Penjelasan tentang Dzikir; Penjelasan tentang syarat-syarat Dzikir; Penjelasan tentang melihat Allah; Penjelasan tentang tirai-tirai zulmaniyah (kegelapan) dan nuraniyah (cahaya); Kebahagiaan dan kesengsaraan; Penjelasan tentang orang-orang faqir.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku Rahasia segala Rahasia ini adalah kitab berbahasa arab dengan judul <em>&#8216;Sirr al-asrar wa mazhhar al-anwar fima yahtaju ilaih al-abrar&#8221;</em> , yang kemudian diterjemahkan oleh Drs. Anding Mujahidin M.Ag. seorang dosen dan instruktur Bahasa Arab di LBIQ dan beberapa perguruan tinggi Islam. Penerbit buku ini adalah Laksana Utama - Otista III - Jakarta Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/rahasia-segala-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Zuhud-2</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/zuhud-2/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/zuhud-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 05:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[zuhud]]></category>

		<category><![CDATA[bersahaja]]></category>

		<category><![CDATA[sikap hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Zuhud
Oleh : Bambang Dwi Atmoko
Singkat cerita, setelah kurang lebih enam hari berjalan kaki, Darsin sampai di sebuah perbukitan di lereng gunung tempat dimana dulu Kiyai Sobirin belajar pada Tuan Guru Mursid. Darsin istirahat beberapa saat untuk meredakan napasnya yang tersengal-sengal akibat pendakian yang cukup panjang di akhir perjalanannya tadi. Setelah merasa segar, Darsin berkeliling untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Zuhud</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-18" style="border: 0px solid black; margin: 4px;" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi1.jpg" alt="cerita-sufi" width="186" height="124" />Singkat cerita, setelah kurang lebih enam hari berjalan kaki, Darsin sampai di sebuah perbukitan di lereng gunung tempat dimana dulu Kiyai Sobirin belajar pada Tuan Guru Mursid. Darsin istirahat beberapa saat untuk meredakan napasnya yang tersengal-sengal akibat pendakian yang cukup panjang di akhir perjalanannya tadi. Setelah merasa segar, Darsin berkeliling untuk mencari di mana rumah Tuan Guru tersebut, lama Darsin berkeliling mencari, namun tidak ditemukannya rumah yang sesuai dengan benaknya. Satu-satunya yang ia lihat adalah sebuah bangunan yang besar dan menurutnya cukup megah dengan pagar tembok batu yang kokoh dan bagus, di dalamnya ada beberapa bangunan yang kesemuanya tergolong mewah, sehingga hal ini membuat hati Darsin menjadi bimbang &#8220;inikah rumah Tuan Guru yang diceritakan Kiyai Sobirin itu, mengapa berbeda sekali dengan sifat-sifat guruku yang sederhana&#8221; bisiknya dalam hati. Dalam hatinya mulai ada perasaan buruk sangka, namun karena figure Kiyai Sobirin yang selalu menjadi tauladannya, terlebih lagi ia sudah terlanjur menempuh perjalanan yang tidak dekat, maka ia tidak surut untuk melangkah memasuki pintu gerbang utama yang terbuka lebar. Setelah berada di dalam pagar tembok ia lihat beberapa orang yang sedang melakukan aktifitas ada yang sedang membersihkan halamam dan mengurus kebun bunga, ada yang sedang membersihkan kaca jendela dan aktifitas lainnya. Darsin menghampiri seorang petugas penjaga yang sedang duduk pada sebuah bangunan menyerupai pos penjagaan di samping bangunan rumah induk. Setelah memberikan salam dan memperkenalkan diri, Darsin menceritakan maksud kedatangannya ingin bertemu dengan Tuan Guru. Jawab penjaga &#8220;Tuan Guru sedang pergi dan baru besok siang beliau kembali dan sebaiknya anda bermalam saja disini&#8221; jawab petugas penjaga. Dengan sedikit kecewa Darsin menurut dan menunggunya hingga besok siang. Darsin diberi tempat untuk istirahat, sebuah kamar yang luas dan sejuk dengan tempat tidur yang bagus. &#8220;Beginikah kehidupan Tuan Guru yang diceritakan Kiya Sobirin itu, mengapa beda sekali dengan sifat-sifat guruku yang sangat sederhana&#8221; kalimat ini yang berkali-kali ia bisikan dalam hatinya entah sampai berapa kali.<br />
Setelah keesokan harinya sebelum waktu dzuhur Tuan Guru tiba, walaupun usianya telah mencapai tujuh puluh empat tahun namun masih terlihat sehat dan kuat sehingga masih mampu menunggang kuda dengan jarak yang cukup jauh. Beliau memakai sorban, mengenakan pakain dan terompah yang semuanya serba bagus dan indah. Maka hal ini semakin membuat Darsin ragu-ragu dan dalam hatinya bergumam &#8220;mengapa tidak terlihat sedikitpun kedzuhudan dalam penampilan Tuan Guru ini&#8221;. Namun Darsin tidak berani menatap wajah Tuan Guru, wajah yang memancarkan kelembutan dan kesejukan serta penuh kasih sayang. Tuan Guru seorang ulama yang sangat bijaksana, beliau sangat memahami keragu-raguan tamunya, dengan lemah lembut beliau bertanya &#8220;anak muda dari mana asalmu dan apa tujuanmu kesini&#8221;. Darsin dengan tetap menunduk menjelaskan panjang lebar akan hal ihwal dan maksud kedatangannya serta tidak lupa Darsin menyampaikan salam dari Kiyai Sobirin untuk Tuan Guru. &#8220;Apa pekerjaan Kiyai Sobirin, gurumu itu&#8221; tanya Tuan Guru. Kemuian Darsin menceritakan pekerjaan gurunya, termasuk amalan-amalan yang selama ini sangat dikaguminya, &#8220;beliau setiap hari membagi-bagikan ikan hasil tangkapannya, baik kepada tetangga maupuk kepada kami para santrinya, sementara beliau hanya mengambil beberapa potong itupun terkadang hanya bagian kepalanya yang tidak berdaging&#8221;. Tuan Guru menyimak cerita Darsin penuh perhatian, kemudian kata beliau &#8220;Anak muda, apa yang kamu lihat itu hanyalah amalan lahir saja, ketahuilah daging ikan yang telah dibagikan kepada orang-orang seperti yang kamu ceritakan kepadaku tadi masih ada dan melekat erat dalam hatinya dan selalu ada dalam benaknya, sehingga hal itu menjadi hijab atau tirai penghalang dalam mengingat Allah azzawajala, kamu tertipu oleh amalan bathin yang tidak pernah kamu sadari, sehingga kamu pun berburuk sangka kepada harta titipan Allah yang ada padaku ini&#8221;. Batapa terperanjatnya Darsin mendengar penjelasan Tuan Guru yang lemah lembut itu. Darsin merasa bagaikan mendapat tamparan di mukanya, kini ia sadar &#8220;bahwa semua pekerjaan harus didasari oleh ikhlas dan sedikitpun tidak boleh bangga atas amalan tersebut&#8221;. Tuan Guru sangat maklum kepada orang-orang seperti Darsin, beliau melanjutkan bicara &#8220;banyak orang yang keliru, dzuhud atau bersahaja bukanlah diukur dari tampilan kehidupan lahir belaka, ia ada didalam ruh atau bathin, bathin harus bersih dari keinginan- keinginan dunia, sehingga bathin tersibak dari penghalang atau hijab. Ada yang hidup serba kekurangan bahkan miskin sekalipun belum tentu ia dzuhud, namun ada yang hidup serba kecukupan bahkan kaya raya bisa jadi ia orang yang sangat dzuhud&#8221;. Mendengar penjelasan Tuan Guru Darsin merasa sangat malu, kemudan ia minta maaf kepada Tuan Guru serta mohon diterima untuk menjadi muridnya. Semoga Allah swt memberikan rahmat kepada kita sekalian amin, amin ya robbal&#8217;alamin&#8230; wassalam &#8230;
</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/zuhud-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Zuhud-1</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/zuhud-1/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/zuhud-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 05:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[zuhud]]></category>

		<category><![CDATA[bersahaja]]></category>

		<category><![CDATA[sikap hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Zuhud
Oleh : Bambang Dwi Atmoko
ZUHUD atau bersahaja adalah merupakan sikap hidup yang diajarkan oleh Nabi besar Muhammad saw dan beliau telah mencontohkan kepada kita, sepanjang hidup beliau sangat bersahaja (zuhud), jauh dari kemewahan senantiasa dekat dengan faqir miskin dan anak yatim serta sangat toleran terhadap semua hamba-hamba Allah. Firman Allah dalam Al Qur&#8217;an : &#8220;Hai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Zuhud</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oleh :<a href="http://kikiswetan.blogspot.com"> Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<div id="attachment_18" class="wp-caption alignleft" style="width: 196px"><img class="size-full wp-image-18" style="border: 0px solid black; margin: 4px;" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi1.jpg" alt="cerita-sufi" width="186" height="124" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>ZUHUD</strong> atau bersahaja adalah merupakan sikap hidup yang diajarkan oleh Nabi besar Muhammad saw dan beliau telah mencontohkan kepada kita, sepanjang hidup beliau sangat bersahaja (zuhud), jauh dari kemewahan senantiasa dekat dengan faqir miskin dan anak yatim serta sangat toleran terhadap semua hamba-hamba Allah. Firman Allah dalam Al Qur&#8217;an : &#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari dari berdzikir kepada Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi&#8221; [QS. Al Munafiqun /63:9]. Dan sebuah hadits meriwayatkan sebagai berikut : Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia&#8221;. Rasulullah Saw menjawab, &#8220;Hiduplah di dunia dengan zuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.&#8221; [HR. Ibnu Majah]. Do&#8217;a beliau : &#8220;Ya Allah, langsungkan hidupku dalam kemiskinan dan wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan pula aku kembali dalam kelompok orang-orang miskin&#8221;. [HR. Bukhari].</p>
<p>Berikut ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang seperti apa kehidupan yang bersahaja (zuhud) itu, yang pernah disampaikan oleh ulama thareqat (TQN) pada acara kuliah subuh menjelang acara Manaqib.<br />
Tersebutlah seorang pemuda, sebut saja &#8220;Darsin&#8221; namanya, ia sudah lama belajar dan nyantri di sebuah pondok milik Kiyai Sobirin, seorang kiyai yang terkenal sangat bersahaja, sholeh dan sabar serta jujur. Kiyai Sobirin senang sekali mencari ikan di laut yang letaknya memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selepas melaksanakan aktifitasnya di madrasah, beliau bergegas pergi kelaut untuk mencari ikan dengan menggunakan <a href="http://boats-id.com/boat" target="_blank">perahu</a> kecil atau yang biasa disebut jungkung, hasil tangkapannya selalu banyak dan besar-besar, ikan-ikan tersebut tidak dibawa ke tempat pelelangan ikan yang ada di sekitar pantai tersebut namun sebagian dibagikan kepada tetangganya dan sebagian lagi untuk lauk makan para santrinya, beliau mengambil untuk dirinya hanya dua atau tiga potong itupun bagian kepala, hal semacam ini beliau lakukan setiap hari. Darsin selalu memperhatikan perilaku Kiyai Sobirin tersebut, &#8220;betapa zuhudnya guruku ini, susah payah setiap hari mencari ikan namun ia hanya sedikit saja menikmati hasilnya, ia lebih senang membagi-bagikan kepada tetangga dan para santri&#8221; katanya dalam hati.<br />
Dari kekagumannya itu akhirnya Darsin ingin mencari tau di manakah beliau belajar sehingga memiliki sikap yang sangat bersahaja (zuhud)dan sangat dermawan. Sehingga suatu hari Darsin memberanikan diri untuk bertanya : &#8220;Pak kiyai, dimanakah engkau belajar, sehingga engkau memiliki sikap yang sangat terpuji&#8221;. Jawab Kiyai Sobirin &#8220;aku belajar pada Tuan Guru Mursid, seorang ulama thareqat yang sangat mumpuni, tempat tinggal beliau jauh dari sini, beliau tinggal di lereng sebuah gunung, untuk menuju kesana dibutuhkan waktu perjalanan kurang lebih satu minggu&#8221;. Mendengar penjelasan gurunya Darsin semakin ingin mendatangi tempat Tuan Guru Mursid dan menimba ilmu dariya : &#8220;Sekiranya pak kiyai mengijinkan, bolehkah aku menemui Tuan guru itu, saya ingin belajar kepadanya&#8221; demikian permohonannya. Dengan senang hati Kiyai Sobirin mengijinkan muridnya itu &#8220;Boleh&#8230; boleh&#8230; silahkan temui beliau dan belajarlah kamu padanya, sekiranya engkau tekun dan berkhidmat padanya niscaya kamu berhasil&#8221;.<br />
Setelah melakukan persiapan termasuk menyiapkan bekal untuk di perjalanan, maka Darsin pamit dan mohon restu kepada gurunya. &#8220;Jangan lupa salam saya untuk Tuan Guru&#8221; kata Kiyai Sobirin. Dengan tekad yang sudah bulat dan semangat belajar yang berapi-api kemuian Darsin berangkat menuju ke tempat di mana gurunya pernah belajar dengan berjalan kaki, dalam benaknya hanya ada satu yaitu mencari ilmu pada Tuan Guru Mursid.<br />
Sepanjang hari ia berjalan, bila matahari mulai menghilang di sisi sebelah barat ia mencari tempat untuk sekedar bermalam dan melepas penat dengan merebahkan badan hingga terlelap. Kemuian keesokan paginya selepas subuh ia mulai lagi dengan berjalan kaki menyusuri jalan kampung, pematang sawah, ladang, dan menyusuri jalan setapak di tengah hutan, daerah tersebut masih asing baginya, sehingga sering kali ia ragu untuk menentukan jalan yang mana yang harus ia lalui ketika bertemu dengan jalan simpang.<br />
. . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/zuhud-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UWAIS AL-QORNI-3</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-3/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 03:38:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uwais al-Qorni]]></category>

		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[penghuni langit]]></category>

		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Bambang Dwi Atmoko
Hingga akhir hayatnya tidak banyak orang yang mengetahui siapa sesungguhnya Uwais Al-Qorni, yang mereka ketahui adalah Uwais Al-Qorni yang fakir dan miskin serta tidak memiliki sanak saudara. Hal ini disebabkan dirinya tidak ingin diketahui orang lain, sebagaimana yang ia katakan kepada Sayyidina Umar ibnu Khotob dan Sayyidina Ali ibnu Abuthollib r.a. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<div id="attachment_10" class="wp-caption alignleft" style="width: 196px"><img class="size-full wp-image-10" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi.jpg" alt=" " width="186" height="124" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p style="text-align: justify;">Hingga akhir hayatnya tidak banyak orang yang mengetahui siapa sesungguhnya Uwais Al-Qorni, yang mereka ketahui adalah Uwais Al-Qorni yang fakir dan miskin serta tidak memiliki sanak saudara. Hal ini disebabkan dirinya tidak ingin diketahui orang lain, sebagaimana yang ia katakan kepada Sayyidina Umar ibnu Khotob dan Sayyidina Ali ibnu Abuthollib r.a. : <em>&#8220;Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang, untuk hari-hari selanjutnya biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi&#8221;</em>. Bahkan saat itu ia menolak sumbangan  dari Sayyidina Umar ibnu Khotob r.a. sebagai jaminan hidupnya,. Betapa mulianya ia dan betapa tinggi derajatnya di sisi Allah swt. Sehingga di saat wafatnya ada beberapa peristiwa yang sempat menggemparkan penduduk negeri Yaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya Allah swt telah mengutus dan menggerakan malaikatnya untuk mengurus jenazah Uwais Al-Qorni. Maka ketika jenazah tersebut akan dimandikan, di tempat tersebut sudah banyak orang yang menunggu untuk melaksanakannya; demikian juga pada saat jenazah hendak dibungkus dengan kain kafan, di tempat itu-pun sudah ada beberapa orang yang menunggu untuk melakuna tugas tersebut;  dan ketika jenazah akan dibawa ke tempat pemakaman, banyak sekali orang yang siap untuk mengangkat dan mengusungnya; bahkan pada saat jenazah akan dimakamkan ternya ditempat tersebut-pun telah siap orang-orang yang akan melakukan tugas-tugas tersebut, (konon orang-orang yang mengurus jenazah Uwais tersebut tidak dikenal oleh penduduk sekitar dan mereka berpakain serba putih). Hal ini membuat penduduk Yaman tercengan, <em>&#8220;Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qorni, sehingga Allah mengutus Malaikat untuk mengurus jenazahmu&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Uwais Al-Qorni, perlan-lahan penduduk negeri Yaman mengetahui siapa ia, bahkan Nabi Muhammad saw sempat menyebutkan bahwa Uwasi Al-Qorni sebagai <em>&#8220;penghuni langit&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam bukunya yang berjudul &#8220;Mistahussudur&#8221; Syaikh Akhmad Sohibulwafa Tajularifin r.a. menuliskan : &#8220;Jadi, para syaikh ini sesungguhnya thareqat (jalan) menuju Allah swt, sekaligus penunjuk jalan muju Allah swt, serta pintu masuk menuju Allah swt. Oleh karena itu, setiap murid yang ingin ma&#8217;rifat lepada Allah swt harus memiliki seorang syaikh, sebagaimana telah kita jelaskan di atas, kecuali mereka yang memang memperoleh ma&#8217;rifat lewat jalan dedikasi total kepada Allah dan dengan cara yang luar biasa. Bisa saja Allah memilih salah seorang hamba-Nya, Dia sendiri yang mendidiknya, menjaganya dari godaan syaitan dan dari noda hawa nafsu seperti Nabi Ibrahim a.s. Nabi Muhammad saw dan <strong><em>Uwais Al-Qorn</em></strong>i dan para wali dan lain-lain semoga Allah mencurahkan Rahmat kepada mereka&#8230; amin&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UWAIS AL-QORNI-2</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-2/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 03:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uwais al-Qorni]]></category>

		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<category><![CDATA[zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Bambang Dwi Atmoko
Waktu terus berlalu, peristiwa demi peristiwa silih berganti. Setelah Nabi Muhammad saw wafat, tampuk kepemimpinan digantikan oleh Sayyidina Abubakar Assidiq, demikian pula setelah Sayyidina Abubakae Assidiq wafat, sebagai amirul mu&#8217;minin diserahkan pada Sayyidina Umar ibnu Khotob, seorang sahabat yang dikenal sangat zuhud dan disiplin serta sangat takut kepada Allah swt. Pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<div id="attachment_10" class="wp-caption alignleft" style="width: 196px"><img class="size-full wp-image-10" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi.jpg" alt="cerita sufi" width="186" height="124" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p style="text-align: justify;">Waktu terus berlalu, peristiwa demi peristiwa silih berganti. Setelah Nabi Muhammad saw wafat, tampuk kepemimpinan digantikan oleh Sayyidina Abubakar Assidiq, demikian pula setelah Sayyidina Abubakae Assidiq wafat, sebagai amirul mu&#8217;minin diserahkan pada Sayyidina Umar ibnu Khotob, seorang sahabat yang dikenal sangat zuhud dan disiplin serta sangat takut kepada Allah swt. Pada masa-masa itulah Sayyidina Ali bin Abutholib teringat akan pesan Rosululloh saw mengenai pemuda Yaman yang bernama Uwais Al-Qorni, yang oleh Nabi saw disebut sebagai &#8220;<em>penghuni langit</em>&#8220;. Maka Sayyidina Ali r.a. segera menyampaikan hal itu kepada Sayyidina Umar r.a.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka sejak saat itu mereka selalu berupaya untuk bertemu dengan Uwais Al Qorni. Sehingga setiap ada kafilah-kafilah yang datang dari negeri Yaman, kedua sahabat Nabi tersebut selalu menanyakan tentang Uwais Al-Qorni, &#8220;<em>apakah ia ada bersama mereka</em>&#8221; ?. Namun sampai beberapakali rombongan pedagang dari negeri Yaman itu datang dan pergi, silih berganti tidak sekalipun kedua sahabat Nabi tersebut menemukan Uwais Al-Qorni di antara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Putus asa dan mudah menyerah bukanlah sifat para sahabat Nabi. Demikian pula dengan Sayyidina Umar dan Sayyidan Ali, mereka tidak pernah berhenti mencari dan menanyakan Uwais Al-Qorbi di antara kafilah unta dari negeri Yaman itu. Sampai suatu saat datanglah kafilah dari negeri Yaman, sebagaimana biasa meraka membawa unta untuk mengangkut barang dagangannya, dan rupanya kali ini Uwais Al Qorni turut serta dalam rombongan tersebut, ia bertugas mengurus dan merawat unta-unta milik para pedagang tersebut. Maka ketika Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali r.a. menanyakannya, salah satu dari rombongan tersebut mengatakan bahwa orang yang selama ini selalu ditanyakan ada di perbatasan kota. Ketika mendengar jawaban tersebut, maka kedua sahabat Nabi ini segera pergi menemui Uwais Al-Qorni.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berada di depan kemah tempat Uwais berada, mereka memberi salam, dan tidak lama kemudian keluarlah Uwais Al-Qorni seraya menjawab salam sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, sewaktu bersalaman Sayyidina Umar r.a. dengan segera membalikkan telapak tangannya, untuk mengetahui kebenaran yang dikatakan oleh Nabi, dan ternyata tanda putih pada telapak tangan Uwais Al-Qorni itu benar serta wajahnya tampak bercahaya. Kemuadian kedua sahabat Nabi ini menanyakan namanya, maka dijawab nama saya <em>&#8220;Abdullah&#8221;.</em> Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan <em>&#8220;kami juga Abdullah [hamba Allah], tapi siapa nama yang sebenarnya&#8221;</em>. Kemudian dijawab <em>&#8220;Uwais Al Qorni&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pembicaraan, Uwais Al-Qorni menceritakan bahwa Ibunya telah meninggal dunia, karena itulah kini ia dapat ikut bersama rombongan kafilah dagang berkeliling mengunjungi negeri lain. Kemudian Sayyidina Umar dan Sayiidina Ali r.a. mohon agar Uwais Al-Qorni bersedia membacakan <em>do&#8217;a</em> dan <em>istighfar</em> untuk mereka berdua. Semula Uwais menolak dan berkata &#8220;<em>Sayalah yang seharusnya meminta do&#8217;a kepada kalian&#8221;.</em> Mendengar perkataan Uwais, kedua sahabat Nabi berkata <em>&#8220;Kami datang kesini untuk memohon do&#8217;a dan istighfar dari Anda&#8221;</em> Karena didesakan maka Uwais Al-Qorni pun mengangkat kedua tangannya untuk berdo&#8217;a dan membacakan istighfar bagi Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali r.a.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Uwais selesai membaca berdo&#8217;a, Sayyidina Umar r.a. berjanji akan menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Namun segera saja Uwais Al-Qorni menolak dengan berkata <em>&#8220;Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang, untuk hari-hari selanjutnya - biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi&#8221;</em>. Setelah itu merekapun berpisah dan saling mengucapkan salam. &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UWAIS AL-QORNI-1</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-1/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 03:17:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uwais al-Qorni]]></category>

		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[penghuni langit]]></category>

		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[
oleh : Bambang Dwi Atmoko
Pada zaman Nabi Muhammad saw, di Negeri Yaman ada seorang pemuda yang bernama Uwais Al-Qorni. Pemuda miskin yang hidup bersama ibunya ini dikenal sangat sholeh, disela-sela kesibukannya mencari nafkah sebagai penggembala ternak (onta dan domba) milik orang lain ia tidak lalai merawat dan mengurus ibunya. Sebab tidak ada lagi sanak famili [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<div id="attachment_10" class="wp-caption alignleft" style="width: 196px"><img class="size-full wp-image-10" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi.jpg" alt="cerita sufi" width="186" height="124" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman Nabi Muhammad saw, di Negeri Yaman ada seorang pemuda yang bernama Uwais Al-Qorni. Pemuda miskin yang hidup bersama ibunya ini dikenal sangat sholeh, disela-sela kesibukannya mencari nafkah sebagai penggembala ternak (onta dan domba) milik orang lain ia tidak lalai merawat dan mengurus ibunya. Sebab tidak ada lagi sanak famili yang dimiliki dan sejak kecil ia telah yatim. Satu-satunya keluarga yang masih ia miliki hanyalah ibundanya yang sudah tua dan menderita kebutaan dan tuli.</p>
<p style="text-align: justify;">Upah yang ia terima dari menggembala ternak hanya cukup buat hidup dengan ibunya, bila ada kelebihan sering ia berikan kepada tetangganya yang membutuhkan. Oleh karena itu walaupun ia seorang pemuda miskin namun sangat disenangi dan dihormati oleh tetangganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran Islam yang mendidik dan mengajarkan akhlak yang luhur, dalam waktu yang relatif singkat memperoleh simpati dan telah memiliki penganut yang cukup banyak di Negeri Yaman. Demikian pula dengan Uwais Al-Qorni, ia telah mengenal dan mengamalkan ajaran tersebut dengan tekun. Adapun cerita tentang Nabi sering ia dengar dari para tetangga yang telah berkunjung ke Madinah. Pada masa itu sudah banyak penduduk Yaman yang berkunjung ke Madinah untuk bertemu Nabi saw, mereka ingin menerima ajaran langsung dari Beliau saw, yang kemudian akan mereka sebar luaskan setelah kembali di Negerinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Uwais Al-Qorni mendengar berita tentang perang uhud, yang menyebabkan Nabi Muhammad saw mendapat cedera karena terkena lemparan batu dan giginya patah, maka segera ia menggetok giginya dengan batu hingga patah. Demikianlah kecintaan Uwais Al Qorni terhadap Rasululloh saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Dorongan cinta dan rindu Uwais Al-Qorni terhadap Nabi membuat dirinya ingin berkunjung ke Madinah untuk menemuainya. &#8220;<em>Kapan aku dapat menziarahi Nabi Muhammad s.a.w. dan memandang wajahnya dari dekat&#8221; </em>demikian kata hatinya. Namun di sisi lain ia tidak dapat meninggalkan ibunya begitu saja. Hal ini membuat hatinya gelisah, siang-malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah Nabi saw. Hingga suatu hari ia datang mendekati ibunya dan menyampaikan isi hatinya tentang rindunya untuk bertemu Nabi saw, serta memohon agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi Muhammad saw di Madinah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar permohonan putranya yang mengharukan itu maka ia-pun memaklumi-nya : &#8220;<em>Pergilah wahai Uwais anaku, temuilah Nabi di rumahnya, dan bila telah berjumpa dengannya segeralah engkau kembali pulang&#8221;.</em> Mendengar ucapan ibunya yang mengijinkan untuk pergi, Uwais sangat gembiranya hatinya. Maka  segera ia berkemas dan menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, sambil berpesan kepada beberapa tetangga dekatnya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berpamitan dan mencium ibunya maka berangkatlah ia menuju Madinah. Perjalanan ia tempuh dengan berjalan kaki dengan melewati perbukitan dan gurun pasir yang sangat luas, dengan alam yang sangat keras serta banyak gangguan, mulai dari penyamun - panasnya gurun pasir di siang hari bagaikan lautan api sedang pada malam hari dinginnya sampai terasa menusuk tulang. Namun hal ini tidak dirasakannya karena kemauannya yang kuat untuk bertemu dan memandang wajah Nabi orang yang selama ini dicintai dan dirindukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak diceritakan berapa lama perjalanan yang ia tempuh. Setibanya di Madinah Uwais Al-Qorni segera mencari rumah Nabi Muhammad saw. Dan untuk menemukan rumah Nabi bukanlah pekerjaan yang sulit. Setelah berada didepan pintu rumah Nabi ia ucapkan <em>&#8220;assalamu&#8217;alaikum&#8221; </em>dengan khidmat dan sopan, karena tidak segera ada jawaban dari dalam rumah yang terlihat sepi maka Uwais mengulang ucapan salam hingga beberapa kali. Setelah menunggu beberapa saat barulah ada jawaban dari seorang wanita <em>&#8220;wa&#8217;alaikum salam&#8221; </em>dengan tergopoh-gopoh wanita tersebut menuju pintu untuk menemui Uwais. Di hadapan wanita tersebut, dengan penuh hormat Uwais menceritakan asal usulnya dan mengutarakan maksudnya. Wanita itu, yang ternyata adalah Siti Aisyah r.a. menjelaskan bahwa Nabi yang ingin dijumpainya sedang tidak ada dirumah dan entah sampai kapan Beliau kembali. Mendengar penjelasan Siti Aisyah r.a. tersebut Uwais Al-Qorni terdiam sesaat, hatinya bimbang &#8220;<em>antara ingin menunggu kedatangan Nabi atau segera pulang kembali kepada ibunya&#8221;.</em> Uwais bukanlah orang yang mudah terombang-ambing oleh keraguan,  rasa tanggung jawab kepada ibunya yang begitu besar, maka ia lebih memilih untuk kembali. Maka dengan sopan santun ia segera mohon diri kepada Sitti Aisyah r.a. untuk segera pulang ke Yaman, ia hanya menitipkan salam untuk Nabi Muhammad saw yang sangat dicintainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Nabi Muhammad saw kembali dan berada di rumahnya, beliau saw menanyakan orang yang mencarinya. Kemudian Sitti Aisyah r.a. pun menuturkan tentang kedatangan seorang pemuda dari Negeri Yaman yang ingin sekali bertemu dengan Nabi, namun pemuda itu tidak bersedia menunggu sampai Nabi kembali sebab ia tidak dapat lama-lama meninggalkan ibundanya. Nabi menjelaskan mengenai Uwais Al Qorni kepada para sahabat : &#8220;<em>ia adalah penghuni langit bila kalian berjumpa ia, perhatikan ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya&#8221;. </em> Setelah itu Nabi memandang kepada Ali r.a. dan Umar r.a. dan bersabda : <em>&#8220;Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan ia, mintalah do&#8217;a dan istighfarnya&#8221;</em> &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/mutiara/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/mutiara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 04:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tasawwuf]]></category>

		<category><![CDATA[Thariqat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[MUTIARA 
Oleh : Bambang Dwi Atmoko
Bismillahirrahmanirrahim.

Allah berfirman dalam Al-Qur&#8217;an : &#8220;Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. ? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan&#8221;? [QS: ArRahmaan/ 55 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>MUTIARA </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p style="text-align: justify;">Bismillahirrahmanirrahim.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_13" class="wp-caption alignleft" style="width: 187px"><img class="size-full wp-image-13" title="mutiara" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/mutiara.jpg" alt="mutiara" width="177" height="120" /><p class="wp-caption-text">mutiara</p></div>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman dalam Al-Qur&#8217;an : &#8220;Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. ? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan&#8221;? [QS: ArRahmaan/ 55 : 19-23];</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi&#8221;. [QS: Al-Furqaan/ 25: 53].</p>
<p style="text-align: justify;">Secara umum setiap air sungai yang mengalir dan masuk ke laut, air sungai tersebut lambat laun akan berubah rasa dan warna mengikuti kadar air laut. Namun ada pertemuan dua laut yang airnya tidak saling bercampur dan menyatu mereka berdampingan bertingkat secara horizontal, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut diatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah Prof. Dr. Muhammad Ibrahim as-Sumaih, seorang guru besar dari Universitas Qatar yang pada tahun 1984-1988 melakukan penelitian di Teluk Oman dan Teluk Persia. Dengan sebuah <a href="http://boats-id.com/boat" target="_blank">kapal</a> peneliti, beliau menemukan sebuah area pada pertemuan kedua teluk tersebut yang disebut mixed water area yang dalam bahasa Al-Qur&#8217;an disebut barzakh. Pada barzakh atau mixed water area tersebut terdapat dua tingkatan air. Pada area tingkat atas berasal dari teluk Oman yang memiliki air dengan rasa tawar dan segar, ini disebabkan air di teluk Oman tersebut berasal dari sungai yang besar. Kemudian pada area tingkat bawah berasal dari teluk Persia yang rasa airnya asin cenderung pahit. Garis pemisah tersebut berada pada kedalama antara 10 - 50 meter, horizontal dan tidak bercampur atau menyatu # &#8220;&#8230;dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi&#8221; [Al Furqaan: 53]. # Secara ilmiah, garis pemisah yang disebut barzakh yang memisahkan kedua tingkat pada mixed water area tersebut merupakan daya tarik yang stabil dari masing-masing air teluk, tentunya disebabkan oleh perbedaan yang mendasar dari kadar, temperatur dan jenis air. Pada area tingkat bawah yang memiliki air asin bahkan cenderung pahit, banyak ditemukan kerang yang menghasilkan mutiara bermutu tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kontemplasi tasawwuf, ayat-ayat alqur&#8217;an tersebut memberi inspirasi kepada para ahli <strong>thariqat</strong> sebagai perumpamaan dalam meniti jalan suluk, sehingga ada pelajaran yang dapat dipetik dan dapat digunakan untuk meningkatkan amal ibadah khususnya thariqat :</p>
<p style="text-align: justify;">Teluk yang berada di area tingkat atas yang berasal dari sungai memiliki air tawar yang segar dan mampu memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk. Sebagaimana amal syariat, sekiranya amalan ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dapat memberikan kesegaran, layaknya air tawar dan segar yang dapat melepaskan dahaga bagi yang sedang dilanda haus karena panasnya matahari dan dapat membersihkan bagi yang kotor. Sholat, dzikir, puasa, zakat dan haji membuat fisik, harta, dan jiwa pelakunya menjadi sehat wal&#8217;afiat serta akan memberi manfaat yang besar kepada makhluk lainnya sebagai dampak dari amalan syari&#8217;at tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Teluk yang berada di area tingkat bawah memilki air yang rasanya asin bahkan cenderung pahit, tentunya tidak dapat memberi kesegaran bagi orang yang sedang dilanda kehausan sebab air tersebut justru akan menambah haus bagi peminumnya bahkan membuat kerongkongan terasa seperti tercekik. Namun di dalam laut yang ber-air asin lagi pahit tersebut banyak terdapat kerang yang menghasilkan mutiara bermutu tinggi serta dapat disaksikan indahnya coral yang menghiasi dasar laut. Itulah gambaran amalan/ pekerjaan thariqat, banyak aral dan kesulitan yang akan menghadang serta kepahitan hidup yang akan kita alami. Sehingga tidak banyak orang yang berminat kepada ajaran thariqat, ditambah lagi keberadaan ilmu thariqat tersebut seperti tersembunyi (di dalam/ bersifat ruhani).</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila aliran sungai syari&#8217;ah telah bertemu dengan lautan thariqat maka munculah mutiara ma&#8217;rifah # &#8220;Dari keduanya keluar mutiara dan marjan&#8221; [Ar-Rahman: 22] # Di kawasan ini seorang hamba akan mengenal siapa dirinya, dia akan mengenal (dengan hatinya) Rabb yang selama ini disembahnya, ia akan merasakan betapa dekatnya Rabb dengan dirinya ia akan merasakan (dengan bathinnya, dengan sirrnya) semua sifat-sifat Allah. Meski lidahnya diam ia mampu merasakan nikmatnya dzikir, sebab hati dan sirr nya sudah terasah. Memang tidak mudah untuk mencapai kemampuan dzikir sirry tersebut, hanya dengan kemauan yang kuat dan istiqomah serta adanya rahmat Allah maka karuania keberkahan Allah akan datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingatlah janji Allah : &#8220;dan sekiranya mereka istiqomah di atas jalan itu (thariqat islam) maka benar-benar aku akan memberikan air yang segar (sebagai sumber kehidupan)&#8221; [Al Jin: 16]. Apabila seorang hamba istiqomah berada pada jalan/ thariqat maka Allah akan mencukupkan rejekinya yang Dia datangkan dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebab bila dzikir telah menjadi bagian dari hidup seorang hamba maka Allah akan menggerakan makhluk-makhluknya (Malaikat, Guru Mursyid dan Ikhwan), untuk membantu meraih manfaat dan kebaikan yang paling besar. Amin&#8230; amin&#8230; yaa robbal&#8217;alamin&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/mutiara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
