<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>CAHAYA KALBU</title>
	<atom:link href="http://cahayakalbu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahayakalbu.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 08:29:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tarekat dan Tasawuf</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/tarekat-dan-tasawuf/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/tarekat-dan-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 08:29:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[TAREKAT DAN TASAWUF
Oleh : Bambang Dwi Atmoko
Tulisan ini kami ambil dari buku Kuliah Ilmu Tasawuf, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah, Pondok Pesantren Suryalaya 2008. Yang ditulis oleh : Dr. H. Cecep Alba, MA dan Drs. H. Suhrowari, M.Ag. Semoga tulisan ini bermanfaat khusunya bagi mereka yang sedang mendalami Ilmu Tasawuf.
Tarekat dalam system ajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: left;"><strong>TAREKAT DAN TASAWUF</strong></h2>
<p><strong>Oleh : Bambang Dwi Atmoko</strong></p>
<address>Tulisan ini kami ambil dari buku Kuliah Ilmu Tasawuf, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah, Pondok Pesantren Suryalaya 2008. Yang ditulis oleh : Dr. H. Cecep Alba, MA dan Drs. H. Suhrowari, M.Ag. Semoga tulisan ini bermanfaat khusunya bagi mereka yang sedang mendalami Ilmu Tasawuf.</address>
<p><strong><em>Tarekat dalam system ajaran Islam</em></strong></p>
<p>Terekat merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Islam tanpa tarekat bukanlah Islam kaffah sebagai yang diajarkan Rasulullah saw. Islam kaffah adalam Islam yang terpadu di dalamnya aspek aqidah, syari&#8217;ah dan haqiqah. Dari aqidah lahir tauhid, dari syari&#8217;ah  lahir fikih dan dari haqiqah lahir tasawuf yang kemudian melahirkan tarekat Terakat <em>Qidiriyayh wa Naqsabandiyah </em> adalah salah satu aliran dalam tasawuf yang substansi ajarannya merupakan gabungan dari dua tarekat yaitu tarekat Qodiriyyah dan Naqsabandiyah. Secara keilmuan dari aqidah lahir ilmu aqa&#8217;id, ilmu tauhid, teologi Islam dan ilmu kalam, dari syari&#8217;ah lahir ilmu Fikih dengan segala cabangnya dan dari aspek haqiqah lahir ilmu tasawuf dan terekat. Imam al-Gazali biasanya menggunakan istilah tauhid, fikih dan tasawuf untuk memberikan padanan pada ketiga aspek aqidah, syari&#8217;ah dan haqiqah.</p>
<p>Arti dasar tarekat adalah jalan. Dan yang dimaksud adalah jalan yang harus dilalui oleh seorang salik untuk menuju pintu-pintu Tuhan. Secara keilmuan¸tarekat dapat dibedakan dari aqidah dan syari&#8217;ah tetapi dalam aplikasinya tarekat tidak dapat dipisahkan dari kedua aspek tersebut. Itulah sebabnya ada sementara pakar yang menyatakan bahwa tarekat sebenarnya merupakan inti ajaran Islam. Statemen terakhir tidaklah keliru kalau yang dimaksud adalah substansi ajaran tarekat. Imam Malik r.a. berkata sebagai dikutip oleh Imam Al Gazali : &#8220;<em>barang siapa bertasawuf tanpa fikih maka dia zindik dan barang siapa berfikih tanpa tasawuf maka dia masih fasik dan barang siapa yang bersilam dengan memadukan antara fikih dan tasawuf benarlah dia dalam berislam&#8221;</em></p>
<p>Tarekan tidak dapat diamalkan sendiri tanpa syari&#8217;ah seperti halnya syari&#8217;ah tidak dapat diamalkan tanpa landasan aqidah, yang benar adalah aqidah sebagai landasan, ia bagaikan akar sebuah pohon, syari&#8217;ah laksana pohon dan ranting sementara haqiqah adalah buah dari metabolisme yang ada dalam sistem pohon tersebut.</p>
<p>Syari&#8217;at itu terkait dengan hakikat dan hakikat terkait dengan syari&#8217;at. Tiap tiap syari&#8217;at yang tidak dikuatkan dengan hakikat, tidak diterima. Dan tiap tiap hakikat yang tidak dibuktikan dengan syari&#8217;at pun tidak diterima. Syari&#8217;at itu mempersembahkan ibadah kepada Allah dan hakikat itu memperoleh musyahadah dari Nya. Ahli zahir adalah ahli syari&#8217;at sementara ahli batin adalah ahli hakikat. Jika terpilih kedua duanya maka merupaka ajaran Islam yang sebenarnya. Nabi s.a.w. bersabda : <em>&#8220;syari&#8217;ah itu ucapan, Terakat itu perbuatan, Hakikat itu keadaan dan Ma&#8217;rifah itu modal pokok&#8221;</em></p>
<p>Secara etimologi TQN berasal dari dua istilah yakni Tarekat Qodiriyyah dan Naqsabandiyah. Secara eksplisit kedua tarekat ini dipadukan oleh seorang Maha Guru Tasawuf yaitu Syaikh Ahmad Khotib Sambas. Qodiriyyah adalah nama sebuah terekat yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Sultan al-Auliya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani. Sementara Naqsyabandiyah adalah tarekat yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Syaikh Bahaudin an-Naqsyabandi.</p>
<p>Perpaduan tersebutlah yang diyakini oleh Maha Guru Syaikh Ahmad Khotib Sambas bahwa kesempurnaan pengamalan tarekat ada dalam keterpaduan Tarekat Qodiriyyah dan Naqsabandiyah.</p>
<p><strong><em>Tasawuf</em></strong></p>
<p>Asal Usul Tasawuf.</p>
<p>Pertama, secara etimologi tasawuf diambil dari kata <em>&#8220;suffah&#8221; </em>yaitu sebuah tempat di masjid Rasulullah s.a.w. (masjid Nabawi) yang dihuni oleh sekelompok sahabat yang zuhud yang konsentrasi beribadah kepada Allah sambil menimba ilmu dari Rasulullah. Kedua¸tasawuf diambil dari kata <em>&#8220;sifat&#8221; </em>dengang alasan bahwa sufi para sufi suka membahas sifat-sifat Allah sekaligus mengaplikasikan sifat sifat Allah tersebut dalam perilaku mereka sehari hari sehingga sifat-sifat itu menjadi kepribadiannya. Ketiga, tasawuf berasal dari akar kata <em>&#8220;süfah&#8221; </em> artinya selembar bulu, sebab para sufi dihadapan Tuhannya merasa bagaikan selembar bulu yang terpisah dari kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa. Keempat, tasawuf diambil dari kata <em>&#8220;shofia&#8221;</em> yang artinya al-hikmah (bijaksana) sebab para sufi selalu mencari hikmah ilahiyah dalam kehidupannya. Kelima, sebagai yang dikemukakan oleh al-Busti seorang pakar tasawuf, menyatakan bahwa taswuf berasal dari akar kata <em>&#8220;as-Safa&#8221; </em> yang artinya suci, bersih dan murni, sebab para sufi membersihkan jiwanya hingga berada dalam kondisi suci dan bersih. Ada juga yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari akar kata <em>&#8220;süf&#8221;</em> yang artinya bulu domba (wool), dengan dasar argumentasi di masa silam para sufi selalu memakai pakaian wool kasar yang terbuat dari bulu binatang sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka. Sikap asketis ini sebagai reaksi atas kehidupan mewah yang telah melanda dunia islam pada saat itu.</p>
<p>Diantara pendapat tentang asal usul <em>&#8220;tasawuf&#8221; </em> menurut Ahmad as-Sirbasi, pendapat al-Butsi lah yang paling kuat dan rajih, sebab kenyataannya tasawuf adalah upaya pensucian hati supaya dekat dengan Allah. Adapun pendapat Ibnu Khaldun bahwa <em>&#8220;tasawuf&#8221;</em> yang berasal dari akar kata <em>&#8220;süf&#8221; </em> yang berarti wool kasar adalah lebih kuat sebab kenyataannya pada waktu itu para sufi biasa memakai wool kasar sebagai tanda kesederhanaan.</p>
<p>Dilihat dari tujuannya, seperti telah disinggung diatas, tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara mensucikan hati (tasfiat al-Qalbi). Allah Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh manusia yang suci. Manusia yang suci bukan hanya bisa dekat dengan Tuhan malah dapat melihat Tuhan <em>(al Mari&#8217;fah)</em>. Bagaimana cara mensucikan hati, di dalam tasawuflah diterangkan teorinya.</p>
<p>Pengertian Tasawuf secara Terminologi.</p>
<p>Menurut Muhammad bin Ali al-Qasab, guru Imam Junaid al-Bagdadi, tasawuf adalah akhlak mulia yang nampak di zaman yang mulia dari seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia. Sedangkan menurut al-Junaid al-Bagdadi (w 297 H) tasawuf adalah : <em>&#8220;engkau ada bersama Allah tanpa &#8216;alaqah (tanpa perantara)&#8221;</em></p>
<p>Dalam statemen yang lebih lengkap[ ia mengatakan <em>&#8220;tasawuf adalah Allah mematikanmu, Allah menghidupkanmu dan kamu ada bersama Allah tanpa perantara&#8221;</em>.</p>
<p>Syaikh Samnun al-Muhib (w.297 H) berkata tasawuf adalah : <em>&#8220;engkau tidak memiliki sesuatu dan engkau tidak dimiliki oleh sesuatu&#8221;.</em></p>
<p>Usman al-Makki berpendapat bahwa tasawuf adalah keadaan dimana seorang hamba setiap waktu melakukan sesuatu perbuatan (amal) yang lebih baik dari waktu yang sebelumnya.</p>
<p>Sirii as-Saqoti (w.251 H) berkata : <em>&#8220;tasawuf adalah suatu nama bagi tiga makna, yaitu Nur ma&#8217;rifat nya tidak memadamkan cahaya kewaro&#8217;annya, tidak berbicara tentang ilmu batin yang bertentangan dengan makna zahir al-Kitab atau sunnah, dan tidak terbawa oleh karomahnya untuk melanggar larangan Allah&#8221; </em></p>
<p>Sementara Bisr Ibn al-Haris (w.227 H) menyatakan : &#8220;<em>orang sufi adalah orang yang telah suci bersih hatinya hanya bagi Allah&#8221;</em></p>
<p>Sedangkan ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan jiwa manusia, bagaimana cara-cara mensucikan jiwa dari berbagai sifat yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan bagaimana cara mencapai jalan menuju Allah.</p>
<p>Obyek ilmu tasawuf adalah perbuatan hati dan panca indra ditinjau dari segi cara pensuciannya.</p>
<p>Buah ilmu tasawuf adalah terdidiknya hati dan mengetahui (ma&#8217;rifah) terhadap ilmu gaib secara ruhani, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, dengan mendapat rido Allah, memperoleh kebahagiaan abadi, hati bersinar dan suci sehingga terbukalah kepada sufi tersebut perkara-perkara yang gaib dan dapat menyaksikan keadaan-keadaan yang mena&#8217;jubkan.</p>
<p>Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan ma&#8217;rifah kepada Allah Ta&#8217;ala dan mahabbah kepada-Nya Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling utama secara mutlak.</p>
<p>Hubungan ilmu tasawuf dengan ilmu yang lain. Bahwa ilmu tasawuf adalah ilmu yang pokok dan syarat utama bagi disiplin ilmu yang lain, sebab tidak akan ada ilmu dan amal kecuali dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Jadi nisbah ilmu tasawuf terhadap ilmu yang lain bagaikan bisbah ruh dan jasad. Ilmu tasawuf adalah ruh, sementara ilmu yang lain adalah jasad. Jasad tidaklah dapat hidup tanpa ruh.</p>
<p>Pencipta ilmu tasawuf adalah Allah Tabaraka wa Ta&#8217;ala. Allah mewahyukan ilmu ini kepada Rasulullah dan para Nabi yang sebelumnya. Tasawuf adalah ruh syari&#8217;ah dan ruh bagi agama-agama lain yang diturunkan Allah seluruhnya.</p>
<p>Ilmu tasawuf mempunyai beberapa nama, sebagai berikut : Ilmu Batin, Ilmu al-Qolbi, Ilmu Laduni, Ilmu Mukasyafah, Ilmu Asrar, Ilmu Maknun dan Ilmu Hakikat.</p>
<p>Sementara pilar ilmu tasawuf ada lima perkara : (1) <em>Tawaqal </em>(bertakwa kepada Allah) baik sewaktu sirr maupun &#8216;alaniyah (terbuka); (2) Mengikuti sunnah baik <em>qauli </em>maupun <em>fi&#8217;il </em> serta mengaktualisasikannya dalam penjagaan diri dan akhlak yang baik; (3) Berpaling dari makhluk yang diwujudkan dengan sikap sabar dan tawaqal; (4) Rido kepada ketentuan Allah yang diwujudkan dengan sikap qona&#8217;ah dan menerima <em>(tafwid)</em>; (5) Kembali kepada Allah baik dikala senang maupun di waktu susah.</p>
<p>Sumber Ilmu Tasawuf. Ilmu tasawuf diambil dari al-Qur&#8217;an dan sunnah Rasulullah saw, juga dari <em>ãtsãr assãbitah</em> (jejak yang sudah tetap) dari umat-umat pilihan di masa lampau.</p>
<p>Hukum mempelajari ilmu tasawuf adalah <em>wajib ain </em>artinya kewajiban yang mengikat kepada setiap individu muslim, sebab setiap orang tidak akan lepas dari kekurangan-kekurangan dan kemungkinan terkenan penyakit hati kecuali para Nabi.Oleh karena itu sebagian ulama ahli ma&#8217;rifah berkata : <em>&#8220;barang siapa yang tidak memiliki ilmu ini sedikitpun (ilmu batin), aku khawatir ia berakhir dengan su&#8217;ul khãtimah. Paling tidak seorang mukmin harus membenarkan akan ilmu ini dan menyerahkan kepada ahlinya&#8221;.</em></p>
<p>Lebih jauh Syaikh as-Syazili menyatakan : &#8220;barang siapa yang tidak mau tenggelam dalam ilmu kami ini maka ia mati dalam keadaan berdosa besar tapi ia tidak merasa kalau ia berdosa.</p>
<p>Masalah inti yang dibahas di dalam ilmu tasawuf adalah sifat-sifat jiwa manusia, cara-cara pensucian jiwa, dan penjelasan istilah-istilah yang khas dalam disiplin ilmu ini misalnya <em>maqamat, taubat, zuhud, wara&#8217;, al-mahabah, fana, baqo</em> dan yang lainnya. Demikian juga masalah ahwal seperti <em>al-khauf wa arraja</em>,<em> al-uns, ar-rida</em>, <em>al-hub</em> (al-mahabbah), <em>an-Naqa</em> dan lain lain.</p>
<p>Al-Kalabazi dengan mengutip pendapat Abu al_hasan Muhammad bib Ahmad al_Farisi menerangkan bahwa rukun tasawuf ada sepuluh macam. Kesepuluh rukun tersebut adalah sebagai berikut :</p>
<p>1.    Tajrid al_Tauhid (memurnikan tauhid).<br />
2.    Memahami infomasi. Maksudnya mendengar tingkah laku  bukan hanya mendengar ilmu saja.<br />
3.    Baik dalam pergaulan<br />
4.    Mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri sendiri.<br />
5.    Meninggalkan banyak pilihan<br />
6.    Ada keseimbangan antara pemenuhan kepentingan lahir dan batin<br />
7.    Membuka jiwa terhadap intuisi (ilham<sup>1</sup>)<br />
8.    Banyak melakukan bepergian untuk mmenyaksikan alam ciptaan Tuhan sekaligus mengambil pelajaran<br />
9.    Meninggalkan <em>iktisãb</em> untuk menumbuhkan Tawaqal<br />
10.  Meninggalkan <em>iddikhãr </em>(banyak simpanan) dalam keadaan tertentu kecuali dalam rangka mencari ilmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/tarekat-dan-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir (3)</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/dzikir-3/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/dzikir-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 02:24:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>

		<category><![CDATA[mujahadah]]></category>

		<category><![CDATA[taqwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Syetan Merana Karena Dzikir kepada   Allah (bagian 3)
oleh : Bambang Dwi Atmoko
Prinsip dzikir adalah kelezatan dan kenikmatan. Bila khusyu&#8217;, linangan air mata, hati terbakar, dan jiwa tenggelam (dalam dzikir), itulah tanda al-fath (Allãh membuka hatimu). Selama pendzikir berdzikir, ia mendapatkan hal-hal yang aneh, asing rahasia-rahasia agung, dan kualitas yang agung.
Nabi Muhammad SAW bersabda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: justify;">Syetan Merana Karena Dzikir kepada   Allah (bagian 3)</h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>oleh : </strong><strong><em>Bambang Dwi Atmoko</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip dzikir adalah kelezatan dan kenikmatan. Bila khusyu&#8217;, linangan air mata, hati terbakar, dan jiwa tenggelam (dalam dzikir), itulah tanda <em>al-fath</em> (Allãh membuka hatimu). Selama pendzikir berdzikir, ia mendapatkan hal-hal yang aneh, asing rahasia-rahasia agung, dan kualitas yang agung.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad SAW bersabda : &#8220;Dzikir Lã ilãha illã Allãh tidak ada penghalang dari sisi Allãh sampai benar-benar ikhlas untuk Allãh&#8221;. Allãh SWT berfirman : &#8220;Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya&#8221; [QS. Al-An'am/ 6:91]. Kemudian tidak menggerakkan lidahnya dengan dzikir, tetapi pikirannya tetap bekerja. Ini adalah maqom ulama-ulama besar Sufi. Ada pembicaraan panjang lebar tentang hal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah tawajjuh seperti ini sangat cepat menghasilkan <em>fath</em> (penyingkapan). Para ulama Sufi juga memperbanyak ibadah, menyibukkan diri bertawajuh kepada Allãh sampai dzikir membakar apa pun selain Allãh dalam hati mereka, dan berhenti berbuat maksiat. Apabila dibarengi dengan riyadhah (olah rohani), tidak diragukan lagi kesempurnaan agung akan tercapai dengan cepat. Nabi Muhammad SAW berkata : &#8220;Tidaklah seseorang berdzikir Lã ilãha illã Allãh dengan ikhal dari lubuk hatinya kecuali dibukakan baginya pintu-pintu langit sampai dzikir itu diangkat ke &#8220;arsy&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ghazali, semoga Allãh meridloinya, membuktikan kebenaran jalan sufi secara faktual setelah ia juga membuktikan kebenarannya secara naqli (berdasarkan Al Qur&#8217;an dan Sunnah). Imam Ghazali menjelaskan bahwa jalan ini telah ditempuh oleh para sahabat dan tabi&#8217;in, ia juga memaparkan sejumlah peristiwa dalam kehidupan para sahabat para wali, para sufi, yang menunjukkan hal itu. Kemudian ia memberikan komentar bahwa cerita-cerita tersebut tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengingkarinya, selama ia belum menyaksikan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan Sufi mengedepankan <strong><em>mujahadah</em></strong> (berjauang gigih mengalahkan hawa nafsu), menghapus sifat-sifat tercela (dalam hati), memutus seluruh hubungan (dengan makhluk) untuk bertawajjuh dengan kemauan keras kepada Allãh SWT. Bila hal tersebut terwujud, maka Allãh akan menangani hati hamba-hambanya, dan menjamin pencerahan hatinya dengan cahaya ilmu. Bila Allãh sendiri yang menangani urusan hati, rahmat-Nya akan tercurah melimpah memenuhi hati, padanya hakekat urusan ketuhanan akan berkilau. Oleh karena itu, seorang hamba Allãh tak ada jalan lain kecuali bersiap-siap membersihkan hatinya secara total, menghadirkan cita-cita yang agung dan keinginan yang sungguh-sungguh, merasakan haus yang amat sangat, dan selalu menantikan rahmat yang Allãh akan kucurkan kepadanya. Para Nabi, para wali dan semisalnya, tersingkapnya berbagai persoalan pada mereka, dan melimpahnya cahaya pada hati mereka tidak dengan belajar, mengkaji atau menulis banyak buku, tetapi dengan zuhud di dunia, melepaskan diri dari ikatan ikatan dunia, mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkan hati pada dunia, dan menghadap kepada Allãh dengan keagungan cita-cita. Siapa yang mempersembahkan hidupnya untuk Allãh, maka pertolongan Allãh pun akan ia peroleh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujjah al-islam, Imam Ghazali, semoga Allãh merahmatinya, juga berkata : &#8220;Yang paling khusu dari jalan Sufi ini adalah bahwa ia tak dapat dicapai hanya dengan belajar, tetapi dengan <em>dzauq</em> (merasakan dan mengalami sendiri), <em>ahwal</em> (pindah dari satu keadaan spiritual ke tingkat yang lebih baik), dan transformasi (pergantian) sifat yang buruk ke sifat yang lebih baik. Dan bahwa para Sufi sangat yakin bahwa merekalah yang memiliki jalan Allãh SWT secara khusus, bahwa jalan hidup yang meraka tempuh adalah jalan hidup terbaik, jalan mereka adalah jalan yang paling tepat, akhlak mereka adalah akhlak yang paling bersih. Bahkan andai dihimpun semua kecerdasan para cerdik cendekia, kebijakan orang-orang bijak, ilmunya para ulama yang berpijak kokoh di atas rahasia-rahasia syari&#8217;ah untuk mengubah jalan hidup dan akhlak mereka dan menggantinya dengan yang lebih baik niscaya mereka tak akan menemukan jalan untuk itu. Karena seluruh gerak dan diam mereka, baik lahir maupun batin, merupakan percikan cahaya miskat kenabian. Dan di belakang cahaya kenabian di muka bumi ini tak ada lagi cahaya yang dapat dijadikan penerang hidup. Ringkasnya, apa yang dapat dikatakan orang-orang tentang thareqat adalah bahwa kesuciannya, yang merupakan syarat awalnya, adalah mensucikan hati secara menyeluruh dari apapun selain Allãh SWT; kuncinya, yang berfungsi sebagai takbiratul ihrom dalam salat, adalah tenggelamnya hati secara total dalam dzikir kepada Allãh, dan akhirnya adalah fana&#8217; secara total dalam Allãh berdasarkan firman Allãh dalam al-Qur&#8217;an yang agung : &#8220;Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan&#8221; [QS. Al-Rahman/ 55: 26-27]. Juga firman-Nya : &#8220;Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allãh&#8221;. [QS. Al-Qoshash/ 28: 28].</p>
<address style="text-align: justify;">Diambil dari kitab Miftahus shudur pada Fasal 6 yang terdapat pada<br />
halaman 115 s.d 139. semoga bermanfaat.</address>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/dzikir-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DZIKIR (2)</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/dzikir-2/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/dzikir-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 06:46:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[dzikir]]></category>

		<category><![CDATA[mujahadah]]></category>

		<category><![CDATA[muraqobah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Syetan Merana Karena Dzikir kepada  Allah (bagian 2)
oleh : Bambang Dwi Atmoko
Dan, jihad berperang melawan syetan dan bujukan nafsu tidak mengenal akhir. Allãh swt berfirman : &#8220;Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini [QS. Al-Hijr/15:99]. Yang dimaksud al-yaqin (yang diyakini) di atas adalah mati dan berjumpa dengan Allãh. Ketika pulang dari perang Tabuk, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: justify;">Syetan Merana Karena Dzikir kepada  Allah (bagian 2)</h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>oleh : </strong><strong><em>Bambang Dwi Atmoko</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan, jihad berperang melawan syetan dan bujukan nafsu tidak mengenal akhir. Allãh swt berfirman : &#8220;Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini [QS. Al-Hijr/15:99]. Yang dimaksud <em>al-yaqin</em> (yang diyakini) di atas adalah mati dan berjumpa dengan Allãh. Ketika pulang dari perang Tabuk, Nabi Muhammad saw bersabda : &#8220;Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar&#8221;. Yang dimaksud Rasulullãh saw dengan jihad akbar (besar) adalah perang melawan syetan, bujukan nafsu dan hasrat diri yang tidak baik, karena perang berkesinambungan dan terus menerus, berlangsung lama, amat berbahaya, dan khawatir terjebak dalam s? al-khãtimah (akhir hidup yang buruk).</p>
<p>Wahai saudara-saudaraku, tauhid membakar syetan, baik dari kalangan manusia maupun jin. Sebab tauhid adalah api bagi syetan, dan cahaya bagi orang-orang yang bertauhid.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana mungkin engkau mengucapkan Lã ilãha illã Allãh sementara di dalam hatimu terdapat banyak tuhan ?. Segala sesuatu yang engkau bersandar kepadanya dan engkau percayai selain Allãh adalah berhalamu. Tauhid (mengesakan Allãh) dengan lisan tak akan bermanfaat bagimu bila dibarengi syirik (menyekutukan Allãh) dengan hati. Bersih tubuh tidak bermanfaat bagimu bila dibarengi dengan najis (kotor) hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang bertauhid membuat syetan merana, sedangkan orang yang menduakan Allãh dibuat merana oleh syetan. Ikhlas adalah <em>lubb</em> (esensi) ucapan dan perbuatan, karena tanpa esensi ucapan dan perbuatan laksana kulit tanpa isi. Kulit itu hanya layak untuk dibakar api. Simak ucapanku dan amalkan, karena ia akan dapat memadamkan api keserakahanmu, dan memecah duri nafsumu. Jangan hadiri suatu tempat yang dapat menyalakan api keserakahanmu, kelak rumah agama dan imanmu akan roboh karena ledakan tabi&#8217;at buruk, hawa nafsu dan syetan, lalu menyirnakan agama, iman dan keyakinanmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu itu harus diambil dari mulut para tokoh, tokoh-tokoh yang berjuang membela agama Allãh &#8216;azza wa jalla, yang bertakwa, yang meninggalkan maksiat, yang mewarisi akhlak para nabi, yang telah mencapai ma&#8217;rifah, yang mengamalkan ilmu, dan mukhlis.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa pun selain takwa adalah bodoh dan batil. Kewalian diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa baik di dunia maupun di akhirat, kewalian adalah fondasi dan bangunan mereka di dunia dan di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Hakikat taubat adalah mengagungkan perintah Allãh Yang Maha Haq &#8216;azza wa jalla dalam situasi apa pun. Oleh karena itu, sebagian ulama sufi, semoga rahmat Allãh dicurahkan kepada mereka, berkata : &#8220;Seluruh kebaikan ada pada dua kalimat : mengagungkan perintah Allãh &#8216;azza wa jalla dan menyayangi Makhluk-Nya&#8221;. Setiap orang yang tidak mengagungkan perintah Allãh &#8216;azza wa jalla dan tidak menyayangi makhluk-Nya, maka ia jauh dari Allãh. Allãh swt berfirman : &#8220;Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali mereka berpegang teguh kepada tali (agama) Allãh dan tali (perjanjian) dengan manusia&#8221; [QS. Al-Imran/3:112].</p>
<p style="text-align: justify;">Allãh hanya mencintai hamba-hamba-Nya yang bertakwa, bertaubat baik kepada sesama, dan bersabar. Bila engkau memiliki <em>khatir</em> (bisikan hati) yang benar, engkau akan mengenal mereka, mencintai mereka, dan menemani mereka. Tetapi <em>khatir</em> akan benar hanya ketika hati disinari cahaya ma&#8217;rifah kepada Allãh &#8216;azza wa jalla. Dan jangan bergantung kepada <em>khatirmu</em> sampai ma&#8217;rifahmu kepada Allãh benar dan menjelaskan mana yang baik dan benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tutup pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan Allãh, kendalikan dirimu untuk tidak menuruti hawa nafsu, biasakan dirimu mengkonsumsi yang halal, pelihara batinmu dengan selalu <em>muraqobah </em>Allãh (menyadari bahwa Allãh selalu mengawasi), jaga batinmu dengan mengikuti sunnah Rasulullãh, engkau akan memiliki <em>khatir </em>yang benar, dan ma&#8217;rifahmu kepada Allãh juga benar. Itulah yang mengembangkan akal dan hati. Adapun nafsu, tabi&#8217;at buruk dan adat tidak (mengembangkan akal dan hati), dan tidak pula dapat menghantarkan kita kepada karãmah.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun tauhid (mengesakan Allãh) dengan Lã ilãha illã Allãh, siapa yang fisiknya menghadap kepada Allãh namun hatinya menghadap kepada selain Allãh, maka hatinya terhalang dari Allãh. Siapa yang berdzikir kepada Allãh namun hatinya mengingat bukan Allãh, maka ia terhalang oleh 1000 tirai penghalang. Sebab dzikir adalah amal yang menghimpun seluruh ahwal hati dan asrar (rahasia) segala upaya untuk medekatkan diri kepada Allãh, baik berupa maqom yaqin, musyahadah yang tampak, dan tangga menyingkap kegaiban. Dzikir adalah benteng Allãh yang paling agung, siapa yang memasukinya ia aman dari segala petaka lahir dan batin.</p>
<p style="text-align: justify;">. . . . . . . . . <em>bersambung</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/dzikir-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dzikir (1)</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/dzikir-1/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/dzikir-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 12:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tasawwuf]]></category>

		<category><![CDATA[dzikir]]></category>

		<category><![CDATA[taqwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Syetan Merana Karena Dzikir kepada Allah
oleh : Bambang Dwi Atmoko
DZIKIR di sini adalah ucapan Lã ilãha illã Allãh atau disebut juga kalimat Thoyibah dan disebut juga kalimat Ikhlas. Dalam Al Qur&#8217;an Allãh berfirman : &#8220;(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allãh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allãh-lah hati menjadi tenteram&#8221; [QS. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: justify;">Syetan Merana Karena Dzikir kepada Allah</h2>
<p style="text-align: justify;">oleh : Bambang Dwi Atmoko</p>
<p style="text-align: justify;">DZIKIR di sini adalah ucapan Lã ilãha illã Allãh atau disebut juga kalimat Thoyibah dan disebut juga kalimat Ikhlas. Dalam Al Qur&#8217;an Allãh berfirman : &#8220;(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allãh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allãh-lah hati menjadi tenteram&#8221; [QS. : Ar Ra'd/13:28]. Nabi Muhammad SAW bersabda : &#8220;Dzikir yang paling utama yang diucapkan olehku dan para nabi sebelum aku adalah Lã ilãha illã Allãh&#8221;. Kemudian beliau bersabda : &#8220;Siapa yang membaca Lã ilãha illã Allãh dengan ikhlas ia masuk surga&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-186" style="margin: 7px; border: 1px solid black;" title="syetan merana " src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2010/04/merana1-300x291.jpg" alt="syetan merana " width="240" height="233" />Dalam kitab Miftahus Shudur karya Syaikh K.H. Achmad Shohibulwafa Tadjul Arifin r.a. terdapat Fasal yang berjudul <strong>Syetan Merana Karena Dzikir kepada Allãh </strong>berikut cuplikannya :</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kitab Al Fath Ar-Rabani Sayid Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. berkata : Wahai kaumku, buatlah syetan merana dengan ikhlas dalam berdzikir Lã ilãha illã Allãh, bukan sekedar mengucapkan saja. Nabi Muhammad saw bersabda &#8220;Buatlah syetan merana dengan dzikir <em>Lã ilãha illã Allãh, Muhammad Rasulullãh. </em>Karena syetan sangat merana oleh dzikir tersebut sebagaimana seseorang diantara kamu membuat keledai menderita dengan memberi beban berlebih pada punggungnya&#8221;. Nabi Muhammad saw bersabda dalam sebuah hadits yang populer : &#8220;Setiap orang darimu pasti ada syetan yang mengiringinya&#8221;. Para sahabat bertanya : &#8220;Apakah engkau juga ya Rasulullãh&#8221; ?. Beliau menjawab : &#8220;Aku juga sama, hanya saja Allãh yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi telah menolongku menghadapinya&#8221;. Rasulullãh saw juga bersabda : &#8220;Andai saja syetan-syetan dapat menyelami lubuk hati putra Adam, niscaya mereka dapat melihat malakut (kerajaan) langit dan bumi&#8221;. Demikianlah, sampai iblis, semoga laknat Allãh tertimpa kepadanya -sebagaimana dikutip dalam Al Qur&#8217;an : &#8220;Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta&#8217;at). [QS. Al-A'raf/7:16-17]. Allãh swt juga berfirman : &#8220;Siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur&#8217;an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya [QS. Al-Zukruf/43: 36]. Allãh swt juga berfirman : &#8220;Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allãh, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli thariqat mengatakan : &#8220;Ucapan Lã ilãha illã Allãh, yang dilakukan dengan bimbingan Syaikh Mursidnya dalam jalan sufi, baik cara maupun jumlah yang telah ditentukan adalah benteng dari syetan, karena Nabi Muhammad saw bersabda : &#8220;Dzikir kepada Allãh adalah benteng dari syetan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah, alat paling utama yang digunakan untuk memerangi syetan dan menolak godaannya adalah kalimat ikhlas di atas dan dzikir seorang hamba kepada Tuhannya &#8216;azza wa jalla. Sebagaimana Rasulullãh bersabda seraya meriwayatkan dari Tuhannya bahwa Allãh berfirman : &#8220;Lã ilãha illã Allãh adalah bentengku (untuk hamba Ku), siapa yang memasuki benteng tersebut, ia akan selamat dari adzab-Ku&#8221;. Allãh swt berfirman : &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allãh, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya&#8221; [QS. Al-A'raf/7:201]. Allãh &#8216;azza wa jalla memberitahu bahwa kebeningan hati adalah dengan dzikir kepada Allãh, dengan kebeningan hati penutup hati, kepekatan, ragu dan lalai hati akan sirna; dengannya pula segala petaka akan dijauhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dzikir adalah kunci takwa dan wara&#8217;, sedangkan takwa adalah pintu akhirat sebagaimana hawa nafsu adalah pintu dunia. Allãh swt berfirman &#8220;Dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa [QS. Al-Baqarah/2:62] Allãh yang Maha Memberkahi dan Maha Tinggi memberitahu bahwa manusia, dengan dzikir, dapat menjadi takwa kepada Allãh.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjuangan gigih melawan godaan syetan adalah bersifat perjuangan batin, yakni dengan hati dan Iman. Apabila engkau berjuang melawan godaan syetan, penolongmu adalah Allãh Yang Maha Rahman (Pengasih), tempat bergantungmu adalah Allãh Yang Maha Raja dan Maha Menguasai, harapanmu adalah melihat wajah Allãh Yang Maha Mulia dan Maha Memberi (di akhirat).</p>
<p style="text-align: justify;">. . . . . . . . . <em>bersambung</em></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/dzikir-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci Pembuka Hati</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/kunci-pembuka-hati/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/kunci-pembuka-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 04:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<category><![CDATA[dzikir]]></category>

		<category><![CDATA[miftahus shudur]]></category>

		<category><![CDATA[pembuka hati]]></category>

		<category><![CDATA[talqin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Bambang Dwi Atmoko

KUNCI PEMBUKA HATI, kitab yang ditulis oleh K.H. Achmad Shohibulwafa Tadjul Arifin r.a. ini adalah kitab yang membahas perkara dzikir baik tatacara dzikir maupun dampak yang dihasilkan oleh dzikir. Dengan dzikir manusia dapat membersihkan diri terutama dari noda syirik baik syirik jally (menyekutukan Allah secara jelas atau nyata) maupun syirik khafiy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong></p>
<p><div id="attachment_103" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><strong></strong><strong><img class="size-full wp-image-103" title="kunci-pembuka-hati" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/kunci-pembuka-hati.jpg" alt="Kunci Pembuka Hati" width="120" height="170" /></strong><p class="wp-caption-text">Kunci Pembuka Hati</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">KUNCI PEMBUKA HATI, kitab yang ditulis oleh K.H. Achmad Shohibulwafa Tadjul Arifin r.a. ini adalah kitab yang membahas perkara dzikir baik tatacara dzikir maupun dampak yang dihasilkan oleh dzikir. Dengan dzikir manusia dapat membersihkan diri terutama dari noda syirik baik syirik jally (menyekutukan Allah secara jelas atau nyata) maupun syirik khafiy (menyekutukan Allah secara samar) dan membersihkan penyakit-penyakit hati lainnya. Dalam buku ini beliau menulis antara lain : Hati itu berkarat, dan bila manusia membiarkannya berkarat seperti dijelaskan Rasulullah saw, maka hati berubah menjadi hitam. Hati menghitam karena jauh dari cahaya, hati menghitam karena cinta yang berlebih kepada dunia, ingin memiliki dunia tanpa <em>wara&#8217;</em> &#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan beliau yang lainnya : Ketahuilah tawajjuh seperti ini sangat cepat menghasilkan <em>fath</em> (penyingkapan). Para ulama sufi juga memperbanyak ibadah, menyibukan diri bertawajjuh kepada Allah sampai dzikir membakar apa pun selain Allah dalam hati mereka, dan berhenti berbuat maksiat. Apabila dibarengi dengan riyadhah (oleh rohani), tidak diragukan lagi kesempurnaan agung akan tercapai dengan cepat. Nabi Muhammad saw bersabda : &#8220;tidaklah seseorang berdzikir Laa ilaaha Illaa Allaah dengan ikhlas dari lubuk hatinya kecuali dibukakan baginya pintu-pintu langit sampai dzikir itu diangkat ke &#8216;arsy&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini terdiri dari Muqaddimah dan 6 fasal yaitu : Hakekat Dzikir Nafyi dan Isbat; Cara Dzikir Jahr (suara keras); Prinsip Talqin dan Janji Setia; Keharusan Menyebut Sanad Yang Sampai ke Rasulullah di semua Thariqat; Dzikrullah dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan Rohani; Syetan Merana karena Dzikir kepada Allah;</p>
<p style="text-align: justify;">Kitab kecil berbahasa Arab yang memiliki judul asli MIFTAHUS SHUDUR ini sebelumnya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Bapak Profesor Dr. Abubakar Atjeh yaitu pada tahun 1969. Kemudian pada tahun 2004 kitab ini kembali diterjemahkan oleh Bapak Drs. Anding Mujahidin M.Ag. Pada Kitab MIFTAHUS SHUDUR edisi baru ini disajikan dalam dua bahasa (menampilkan bahasa aslinya). Penerbit Kitab MIFTAHUS SHUDUR adalah Laksana Utama.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/kunci-pembuka-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Segala Rahasia</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/rahasia-segala-rahasia/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/rahasia-segala-rahasia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 03:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<category><![CDATA[Tasawwuf]]></category>

		<category><![CDATA[Thariqat]]></category>

		<category><![CDATA[Buku Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[REVIEW
oleh : Bambang Dwi Atmoko
Rahasia segala Rahasia, Buku yang terdiri dari dua puluh empat fasal ini ditulis oleh Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. antara abad ke 5 - 6 hijriyah atau kurang lebih pada abad ke 9 masehi. Pada edisi pertama kami terbitkan dalam dua jilid (jilid 1 dan 2) namun karena banyak fihak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>REVIEW</h2>
<p><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p><div id="attachment_41" class="wp-caption alignleft" style="width: 158px"><em><strong><em><strong><img class="size-medium wp-image-41" title="rahasia-segala-rahasia" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/rahasia-segala-rahasia-212x300.jpg" alt="Rahasia Segala Rahasia" width="148" height="210" /></strong></em></strong></em><p class="wp-caption-text">Rahasia Segala Rahasia</p></div></p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Rahasia segala Rahasia</strong></em>, Buku yang terdiri dari dua puluh empat fasal ini ditulis oleh Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. antara abad ke 5 - 6 hijriyah atau kurang lebih pada abad ke 9 masehi. Pada edisi pertama kami terbitkan dalam dua jilid (jilid 1 dan 2) namun karena banyak fihak yang mengharapkan kemudahan memperoleh buku secara utuh, maka pada terbitan edisi ke dua buku yang membahas ajaran tasawwuf ini kami jadikan satu jilid.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Q.S. adalah seorang ulama Thariqat yang sangat termasyhur, banyak kitab yang telah beliau tulis. Di dalam muqadimah kitab Rahasia segala Rahasia ini beliau menuliskan antara lain : &#8220;Para ulama menjadi hamba-hamba Allah yang khowas, yang dipilih Allah (untuk meninggikan) citra agama-Nya, diberi petunjuk oleh Allah kepada agama dengan karunia sebagai kelebihannya, kemudian Allah mendahulukan dan memilih mereka. Para ulama adalah pewaris dan pengganti para nabi, pemimpin dan &#8216;urafa (yang sudah sampai ke tingkat ma&#8217;rifah Allah) kaum muslimin, sebagai mana firman Allah ta&#8217;ala <em>&#8220;Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang zalim linafsih (menganiaya diri sendiri) dan di antara mereka ada yang muqtasid (pertengahan) dan di antara mereka ada (pula) yang sabiq bil khairat (lebih dahulu berbuat baik) </em>[Q.S: Fathir/35 : 2]. Sebagaimana Nabi Muhammad saw bersabda : &#8220;Para ulama adalah pewaris para nabi dengan ilmu, mereka dicintai langit, ikan-ikan di laut memohon ampun kepada Allah untuk mereka sampai hari kiamat&#8221;. Rasulullah saw bersabda &#8220;Allah membangkitkan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat, kemudian membedakan para ulama. Allah ta&#8217;ala lalu berfirman <em>&#8220;Wahai para ulama, Aku tidak letakkan ilmu-Ku kecuali karena Aku maha Mengetahui keadaan dirimu, Aku tidak berikan ilmu pada kalian untuk menyiksa kalian. Berangkatlah ke surga, karena Aku telah mengampuni kalian&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Segala puji bagi Allah atas segala keadaan, yang telah menjadikan surga berupa derajat yang menjadi bagian bagi kaum &#8216;abidin, dan surga berupa <em>&#8220;qurbah&#8221; </em>(keterdekatan) bagi kaum &#8216;arifin.</p>
<p style="text-align: justify;">Amma ba&#8217;du</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Allah menciptakan ruh Muhammad saw pertama kali dari cahaya keindahan-Nya sebagaimana firman Allah dalam hadits Qudsi : &#8220;Aku ciptakan pertama kali Muhammad dari cahaya wajah-Ku&#8221;. Juga sabda Rasulullah saw : &#8220;Yang pertama kali Allah ciptakan adalah ruhku. Yang pertama kali Allah ciptakan cahayaku. Yang pertama kali Allah ciptakan pena. Yang pertama kali Allah ciptakan adalah akal&#8221;. Yang dimaksud dari semuanya adalah satu, yakni hakikat Muhammadiyah. Tetapi :</p>
<p style="text-align: justify;">Ia disebut <strong>cahaya</strong> karena bersih dari <em>zulmaniyah jalaliyah.</em> Sebagai firman Allah <em>&#8220;Telah datang kepada dari Allah cahaya dan al-Kitab </em>[Q.S: Al-Maidah/5 : 15]; Ia juga disebut <strong>akal</strong> karena dapat memahami <em>kuliiyat</em> (segala yang bersifat universal); Juga disebut <strong>pena</strong> karena ia merupakan media untuk transfer ilmu sebagaimana pena merupakan media transfer ilmu dalam alam huruf. Jadi <em>ruh Muhammadiy</em> merupakan intisari alam raya, awal dan pangkal segala makhluk, sebagaimana sabda Rasulullah saw : &#8220;Aku dari Allah, dan orang-orang yang beriman dariku&#8221;. Dari <em>ruh Muhammadiy</em> ini diciptakanlah semua ruh di alam <em>Lahut</em> dalam bentuk hakiki yang paling baik, yakni nama <em>hajalah al-uns</em> di alam tersebut, yaitu negeri asal. Setelah 4000 tahun berlalu, Allah menciptakan <em>&#8216;arsya </em>dari <em>nur &#8216;aini </em>(cahaya jiwa) Muhammad saw, sedangkan <em>kuliiyat</em> yang lainnya diciptakan darinya. Ruh-ruh itu dikembalikan ke kerak dasar <em>kainat</em> (alam raya) yakni jasad, seperti firman Alla : <em>&#8220;kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya&#8221;. . . . . . . . . . .</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari dua pulum empat fasal, dua belas diantaranya adalah Penjelasan tentang kembalinya manusia ke negeri asalnya; Penjelasan tentang dikembalikannya manusia ke derajat terendah; Penjelasan tempat ruh di dalam jasad; Penjelasan tentang jumlah ilmu; Penjelasan taubat dan talkin; Penjelasan tentang ahli tasawwuf; Penjelasan tentang Dzikir; Penjelasan tentang syarat-syarat Dzikir; Penjelasan tentang melihat Allah; Penjelasan tentang tirai-tirai zulmaniyah (kegelapan) dan nuraniyah (cahaya); Kebahagiaan dan kesengsaraan; Penjelasan tentang orang-orang faqir.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku Rahasia segala Rahasia ini adalah kitab berbahasa arab dengan judul <em>&#8216;Sirr al-asrar wa mazhhar al-anwar fima yahtaju ilaih al-abrar&#8221;</em> , yang kemudian diterjemahkan oleh Drs. Anding Mujahidin M.Ag. seorang dosen dan instruktur Bahasa Arab di LBIQ dan beberapa perguruan tinggi Islam. Penerbit buku ini adalah Laksana Utama - Otista III - Jakarta Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/rahasia-segala-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Zuhud-2</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/zuhud-2/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/zuhud-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 05:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[zuhud]]></category>

		<category><![CDATA[bersahaja]]></category>

		<category><![CDATA[sikap hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Zuhud
Oleh : Bambang Dwi Atmoko
Singkat cerita, setelah kurang lebih enam hari berjalan kaki, Darsin sampai di sebuah perbukitan di lereng gunung tempat dimana dulu Kiyai Sobirin belajar pada Tuan Guru Mursid. Darsin istirahat beberapa saat untuk meredakan napasnya yang tersengal-sengal akibat pendakian yang cukup panjang di akhir perjalanannya tadi. Setelah merasa segar, Darsin berkeliling untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Zuhud</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-18" style="border: 0px solid black; margin: 4px;" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi1.jpg" alt="cerita-sufi" width="186" height="124" />Singkat cerita, setelah kurang lebih enam hari berjalan kaki, Darsin sampai di sebuah perbukitan di lereng gunung tempat dimana dulu Kiyai Sobirin belajar pada Tuan Guru Mursid. Darsin istirahat beberapa saat untuk meredakan napasnya yang tersengal-sengal akibat pendakian yang cukup panjang di akhir perjalanannya tadi. Setelah merasa segar, Darsin berkeliling untuk mencari di mana rumah Tuan Guru tersebut, lama Darsin berkeliling mencari, namun tidak ditemukannya rumah yang sesuai dengan benaknya. Satu-satunya yang ia lihat adalah sebuah bangunan yang besar dan menurutnya cukup megah dengan pagar tembok batu yang kokoh dan bagus, di dalamnya ada beberapa bangunan yang kesemuanya tergolong mewah, sehingga hal ini membuat hati Darsin menjadi bimbang &#8220;inikah rumah Tuan Guru yang diceritakan Kiyai Sobirin itu, mengapa berbeda sekali dengan sifat-sifat guruku yang sederhana&#8221; bisiknya dalam hati. Dalam hatinya mulai ada perasaan buruk sangka, namun karena figure Kiyai Sobirin yang selalu menjadi tauladannya, terlebih lagi ia sudah terlanjur menempuh perjalanan yang tidak dekat, maka ia tidak surut untuk melangkah memasuki pintu gerbang utama yang terbuka lebar. Setelah berada di dalam pagar tembok ia lihat beberapa orang yang sedang melakukan aktifitas ada yang sedang membersihkan halamam dan mengurus kebun bunga, ada yang sedang membersihkan kaca jendela dan aktifitas lainnya. Darsin menghampiri seorang petugas penjaga yang sedang duduk pada sebuah bangunan menyerupai pos penjagaan di samping bangunan rumah induk. Setelah memberikan salam dan memperkenalkan diri, Darsin menceritakan maksud kedatangannya ingin bertemu dengan Tuan Guru. Jawab penjaga &#8220;Tuan Guru sedang pergi dan baru besok siang beliau kembali dan sebaiknya anda bermalam saja disini&#8221; jawab petugas penjaga. Dengan sedikit kecewa Darsin menurut dan menunggunya hingga besok siang. Darsin diberi tempat untuk istirahat, sebuah kamar yang luas dan sejuk dengan tempat tidur yang bagus. &#8220;Beginikah kehidupan Tuan Guru yang diceritakan Kiya Sobirin itu, mengapa beda sekali dengan sifat-sifat guruku yang sangat sederhana&#8221; kalimat ini yang berkali-kali ia bisikan dalam hatinya entah sampai berapa kali.<br />
Setelah keesokan harinya sebelum waktu dzuhur Tuan Guru tiba, walaupun usianya telah mencapai tujuh puluh empat tahun namun masih terlihat sehat dan kuat sehingga masih mampu menunggang kuda dengan jarak yang cukup jauh. Beliau memakai sorban, mengenakan pakain dan terompah yang semuanya serba bagus dan indah. Maka hal ini semakin membuat Darsin ragu-ragu dan dalam hatinya bergumam &#8220;mengapa tidak terlihat sedikitpun kedzuhudan dalam penampilan Tuan Guru ini&#8221;. Namun Darsin tidak berani menatap wajah Tuan Guru, wajah yang memancarkan kelembutan dan kesejukan serta penuh kasih sayang. Tuan Guru seorang ulama yang sangat bijaksana, beliau sangat memahami keragu-raguan tamunya, dengan lemah lembut beliau bertanya &#8220;anak muda dari mana asalmu dan apa tujuanmu kesini&#8221;. Darsin dengan tetap menunduk menjelaskan panjang lebar akan hal ihwal dan maksud kedatangannya serta tidak lupa Darsin menyampaikan salam dari Kiyai Sobirin untuk Tuan Guru. &#8220;Apa pekerjaan Kiyai Sobirin, gurumu itu&#8221; tanya Tuan Guru. Kemuian Darsin menceritakan pekerjaan gurunya, termasuk amalan-amalan yang selama ini sangat dikaguminya, &#8220;beliau setiap hari membagi-bagikan ikan hasil tangkapannya, baik kepada tetangga maupuk kepada kami para santrinya, sementara beliau hanya mengambil beberapa potong itupun terkadang hanya bagian kepalanya yang tidak berdaging&#8221;. Tuan Guru menyimak cerita Darsin penuh perhatian, kemudian kata beliau &#8220;Anak muda, apa yang kamu lihat itu hanyalah amalan lahir saja, ketahuilah daging ikan yang telah dibagikan kepada orang-orang seperti yang kamu ceritakan kepadaku tadi masih ada dan melekat erat dalam hatinya dan selalu ada dalam benaknya, sehingga hal itu menjadi hijab atau tirai penghalang dalam mengingat Allah azzawajala, kamu tertipu oleh amalan bathin yang tidak pernah kamu sadari, sehingga kamu pun berburuk sangka kepada harta titipan Allah yang ada padaku ini&#8221;. Batapa terperanjatnya Darsin mendengar penjelasan Tuan Guru yang lemah lembut itu. Darsin merasa bagaikan mendapat tamparan di mukanya, kini ia sadar &#8220;bahwa semua pekerjaan harus didasari oleh ikhlas dan sedikitpun tidak boleh bangga atas amalan tersebut&#8221;. Tuan Guru sangat maklum kepada orang-orang seperti Darsin, beliau melanjutkan bicara &#8220;banyak orang yang keliru, dzuhud atau bersahaja bukanlah diukur dari tampilan kehidupan lahir belaka, ia ada didalam ruh atau bathin, bathin harus bersih dari keinginan- keinginan dunia, sehingga bathin tersibak dari penghalang atau hijab. Ada yang hidup serba kekurangan bahkan miskin sekalipun belum tentu ia dzuhud, namun ada yang hidup serba kecukupan bahkan kaya raya bisa jadi ia orang yang sangat dzuhud&#8221;. Mendengar penjelasan Tuan Guru Darsin merasa sangat malu, kemudan ia minta maaf kepada Tuan Guru serta mohon diterima untuk menjadi muridnya. Semoga Allah swt memberikan rahmat kepada kita sekalian amin, amin ya robbal&#8217;alamin&#8230; wassalam &#8230;
</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/zuhud-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Zuhud-1</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/zuhud-1/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/zuhud-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 05:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[zuhud]]></category>

		<category><![CDATA[bersahaja]]></category>

		<category><![CDATA[sikap hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Zuhud
Oleh : Bambang Dwi Atmoko
ZUHUD atau bersahaja adalah merupakan sikap hidup yang diajarkan oleh Nabi besar Muhammad saw dan beliau telah mencontohkan kepada kita, sepanjang hidup beliau sangat bersahaja (zuhud), jauh dari kemewahan senantiasa dekat dengan faqir miskin dan anak yatim serta sangat toleran terhadap semua hamba-hamba Allah. Firman Allah dalam Al Qur&#8217;an : &#8220;Hai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Zuhud</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oleh :<a href="http://kikiswetan.blogspot.com"> Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p><div id="attachment_18" class="wp-caption alignleft" style="width: 196px"><img class="size-full wp-image-18" style="border: 0px solid black; margin: 4px;" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi1.jpg" alt="cerita-sufi" width="186" height="124" /><p class="wp-caption-text"> </p></div></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>ZUHUD</strong> atau bersahaja adalah merupakan sikap hidup yang diajarkan oleh Nabi besar Muhammad saw dan beliau telah mencontohkan kepada kita, sepanjang hidup beliau sangat bersahaja (zuhud), jauh dari kemewahan senantiasa dekat dengan faqir miskin dan anak yatim serta sangat toleran terhadap semua hamba-hamba Allah. Firman Allah dalam Al Qur&#8217;an : &#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari dari berdzikir kepada Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi&#8221; [QS. Al Munafiqun /63:9]. Dan sebuah hadits meriwayatkan sebagai berikut : Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw dan bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia&#8221;. Rasulullah Saw menjawab, &#8220;Hiduplah di dunia dengan zuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.&#8221; [HR. Ibnu Majah]. Do&#8217;a beliau : &#8220;Ya Allah, langsungkan hidupku dalam kemiskinan dan wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan pula aku kembali dalam kelompok orang-orang miskin&#8221;. [HR. Bukhari].</p>
<p>Berikut ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang seperti apa kehidupan yang bersahaja (zuhud) itu, yang pernah disampaikan oleh ulama thareqat (TQN) pada acara kuliah subuh menjelang acara Manaqib.<br />
Tersebutlah seorang pemuda, sebut saja &#8220;Darsin&#8221; namanya, ia sudah lama belajar dan nyantri di sebuah pondok milik Kiyai Sobirin, seorang kiyai yang terkenal sangat bersahaja, sholeh dan sabar serta jujur. Kiyai Sobirin senang sekali mencari ikan di laut yang letaknya memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Selepas melaksanakan aktifitasnya di madrasah, beliau bergegas pergi kelaut untuk mencari ikan dengan menggunakan <a href="http://boats-id.com/boat" target="_blank">perahu</a> kecil atau yang biasa disebut jungkung, hasil tangkapannya selalu banyak dan besar-besar, ikan-ikan tersebut tidak dibawa ke tempat pelelangan ikan yang ada di sekitar pantai tersebut namun sebagian dibagikan kepada tetangganya dan sebagian lagi untuk lauk makan para santrinya, beliau mengambil untuk dirinya hanya dua atau tiga potong itupun bagian kepala, hal semacam ini beliau lakukan setiap hari. Darsin selalu memperhatikan perilaku Kiyai Sobirin tersebut, &#8220;betapa zuhudnya guruku ini, susah payah setiap hari mencari ikan namun ia hanya sedikit saja menikmati hasilnya, ia lebih senang membagi-bagikan kepada tetangga dan para santri&#8221; katanya dalam hati.<br />
Dari kekagumannya itu akhirnya Darsin ingin mencari tau di manakah beliau belajar sehingga memiliki sikap yang sangat bersahaja (zuhud)dan sangat dermawan. Sehingga suatu hari Darsin memberanikan diri untuk bertanya : &#8220;Pak kiyai, dimanakah engkau belajar, sehingga engkau memiliki sikap yang sangat terpuji&#8221;. Jawab Kiyai Sobirin &#8220;aku belajar pada Tuan Guru Mursid, seorang ulama thareqat yang sangat mumpuni, tempat tinggal beliau jauh dari sini, beliau tinggal di lereng sebuah gunung, untuk menuju kesana dibutuhkan waktu perjalanan kurang lebih satu minggu&#8221;. Mendengar penjelasan gurunya Darsin semakin ingin mendatangi tempat Tuan Guru Mursid dan menimba ilmu dariya : &#8220;Sekiranya pak kiyai mengijinkan, bolehkah aku menemui Tuan guru itu, saya ingin belajar kepadanya&#8221; demikian permohonannya. Dengan senang hati Kiyai Sobirin mengijinkan muridnya itu &#8220;Boleh&#8230; boleh&#8230; silahkan temui beliau dan belajarlah kamu padanya, sekiranya engkau tekun dan berkhidmat padanya niscaya kamu berhasil&#8221;.<br />
Setelah melakukan persiapan termasuk menyiapkan bekal untuk di perjalanan, maka Darsin pamit dan mohon restu kepada gurunya. &#8220;Jangan lupa salam saya untuk Tuan Guru&#8221; kata Kiyai Sobirin. Dengan tekad yang sudah bulat dan semangat belajar yang berapi-api kemuian Darsin berangkat menuju ke tempat di mana gurunya pernah belajar dengan berjalan kaki, dalam benaknya hanya ada satu yaitu mencari ilmu pada Tuan Guru Mursid.<br />
Sepanjang hari ia berjalan, bila matahari mulai menghilang di sisi sebelah barat ia mencari tempat untuk sekedar bermalam dan melepas penat dengan merebahkan badan hingga terlelap. Kemuian keesokan paginya selepas subuh ia mulai lagi dengan berjalan kaki menyusuri jalan kampung, pematang sawah, ladang, dan menyusuri jalan setapak di tengah hutan, daerah tersebut masih asing baginya, sehingga sering kali ia ragu untuk menentukan jalan yang mana yang harus ia lalui ketika bertemu dengan jalan simpang.<br />
. . . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/zuhud-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UWAIS AL-QORNI-3</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-3/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 03:38:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uwais al-Qorni]]></category>

		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[penghuni langit]]></category>

		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Bambang Dwi Atmoko
Hingga akhir hayatnya tidak banyak orang yang mengetahui siapa sesungguhnya Uwais Al-Qorni, yang mereka ketahui adalah Uwais Al-Qorni yang fakir dan miskin serta tidak memiliki sanak saudara. Hal ini disebabkan dirinya tidak ingin diketahui orang lain, sebagaimana yang ia katakan kepada Sayyidina Umar ibnu Khotob dan Sayyidina Ali ibnu Abuthollib r.a. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p><div id="attachment_10" class="wp-caption alignleft" style="width: 196px"><img class="size-full wp-image-10" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi.jpg" alt=" " width="186" height="124" /><p class="wp-caption-text"> </p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Hingga akhir hayatnya tidak banyak orang yang mengetahui siapa sesungguhnya Uwais Al-Qorni, yang mereka ketahui adalah Uwais Al-Qorni yang fakir dan miskin serta tidak memiliki sanak saudara. Hal ini disebabkan dirinya tidak ingin diketahui orang lain, sebagaimana yang ia katakan kepada Sayyidina Umar ibnu Khotob dan Sayyidina Ali ibnu Abuthollib r.a. : <em>&#8220;Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang, untuk hari-hari selanjutnya biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi&#8221;</em>. Bahkan saat itu ia menolak sumbangan  dari Sayyidina Umar ibnu Khotob r.a. sebagai jaminan hidupnya,. Betapa mulianya ia dan betapa tinggi derajatnya di sisi Allah swt. Sehingga di saat wafatnya ada beberapa peristiwa yang sempat menggemparkan penduduk negeri Yaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya Allah swt telah mengutus dan menggerakan malaikatnya untuk mengurus jenazah Uwais Al-Qorni. Maka ketika jenazah tersebut akan dimandikan, di tempat tersebut sudah banyak orang yang menunggu untuk melaksanakannya; demikian juga pada saat jenazah hendak dibungkus dengan kain kafan, di tempat itu-pun sudah ada beberapa orang yang menunggu untuk melakuna tugas tersebut;  dan ketika jenazah akan dibawa ke tempat pemakaman, banyak sekali orang yang siap untuk mengangkat dan mengusungnya; bahkan pada saat jenazah akan dimakamkan ternya ditempat tersebut-pun telah siap orang-orang yang akan melakukan tugas-tugas tersebut, (konon orang-orang yang mengurus jenazah Uwais tersebut tidak dikenal oleh penduduk sekitar dan mereka berpakain serba putih). Hal ini membuat penduduk Yaman tercengan, <em>&#8220;Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qorni, sehingga Allah mengutus Malaikat untuk mengurus jenazahmu&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sepeninggal Uwais Al-Qorni, perlan-lahan penduduk negeri Yaman mengetahui siapa ia, bahkan Nabi Muhammad saw sempat menyebutkan bahwa Uwasi Al-Qorni sebagai <em>&#8220;penghuni langit&#8221;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam bukunya yang berjudul &#8220;Mistahussudur&#8221; Syaikh Akhmad Sohibulwafa Tajularifin r.a. menuliskan : &#8220;Jadi, para syaikh ini sesungguhnya thareqat (jalan) menuju Allah swt, sekaligus penunjuk jalan muju Allah swt, serta pintu masuk menuju Allah swt. Oleh karena itu, setiap murid yang ingin ma&#8217;rifat lepada Allah swt harus memiliki seorang syaikh, sebagaimana telah kita jelaskan di atas, kecuali mereka yang memang memperoleh ma&#8217;rifat lewat jalan dedikasi total kepada Allah dan dengan cara yang luar biasa. Bisa saja Allah memilih salah seorang hamba-Nya, Dia sendiri yang mendidiknya, menjaganya dari godaan syaitan dan dari noda hawa nafsu seperti Nabi Ibrahim a.s. Nabi Muhammad saw dan <strong><em>Uwais Al-Qorn</em></strong>i dan para wali dan lain-lain semoga Allah mencurahkan Rahmat kepada mereka&#8230; amin&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UWAIS AL-QORNI-2</title>
		<link>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-2/</link>
		<comments>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 03:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uwais al-Qorni]]></category>

		<category><![CDATA[cerita sufi]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[sufi]]></category>

		<category><![CDATA[taat]]></category>

		<category><![CDATA[zuhud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahayakalbu.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Bambang Dwi Atmoko
Waktu terus berlalu, peristiwa demi peristiwa silih berganti. Setelah Nabi Muhammad saw wafat, tampuk kepemimpinan digantikan oleh Sayyidina Abubakar Assidiq, demikian pula setelah Sayyidina Abubakae Assidiq wafat, sebagai amirul mu&#8217;minin diserahkan pada Sayyidina Umar ibnu Khotob, seorang sahabat yang dikenal sangat zuhud dan disiplin serta sangat takut kepada Allah swt. Pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>oleh : <a href="http://kikiswetan.blogspot.com" target="_blank">Bambang Dwi Atmoko</a></em></p>
<p><div id="attachment_10" class="wp-caption alignleft" style="width: 196px"><img class="size-full wp-image-10" title="cerita-sufi" src="http://cahayakalbu.com/wp-content/uploads/2009/05/cerita-sufi.jpg" alt="cerita sufi" width="186" height="124" /><p class="wp-caption-text"> </p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Waktu terus berlalu, peristiwa demi peristiwa silih berganti. Setelah Nabi Muhammad saw wafat, tampuk kepemimpinan digantikan oleh Sayyidina Abubakar Assidiq, demikian pula setelah Sayyidina Abubakae Assidiq wafat, sebagai amirul mu&#8217;minin diserahkan pada Sayyidina Umar ibnu Khotob, seorang sahabat yang dikenal sangat zuhud dan disiplin serta sangat takut kepada Allah swt. Pada masa-masa itulah Sayyidina Ali bin Abutholib teringat akan pesan Rosululloh saw mengenai pemuda Yaman yang bernama Uwais Al-Qorni, yang oleh Nabi saw disebut sebagai &#8220;<em>penghuni langit</em>&#8220;. Maka Sayyidina Ali r.a. segera menyampaikan hal itu kepada Sayyidina Umar r.a.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka sejak saat itu mereka selalu berupaya untuk bertemu dengan Uwais Al Qorni. Sehingga setiap ada kafilah-kafilah yang datang dari negeri Yaman, kedua sahabat Nabi tersebut selalu menanyakan tentang Uwais Al-Qorni, &#8220;<em>apakah ia ada bersama mereka</em>&#8221; ?. Namun sampai beberapakali rombongan pedagang dari negeri Yaman itu datang dan pergi, silih berganti tidak sekalipun kedua sahabat Nabi tersebut menemukan Uwais Al-Qorni di antara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Putus asa dan mudah menyerah bukanlah sifat para sahabat Nabi. Demikian pula dengan Sayyidina Umar dan Sayyidan Ali, mereka tidak pernah berhenti mencari dan menanyakan Uwais Al-Qorbi di antara kafilah unta dari negeri Yaman itu. Sampai suatu saat datanglah kafilah dari negeri Yaman, sebagaimana biasa meraka membawa unta untuk mengangkut barang dagangannya, dan rupanya kali ini Uwais Al Qorni turut serta dalam rombongan tersebut, ia bertugas mengurus dan merawat unta-unta milik para pedagang tersebut. Maka ketika Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali r.a. menanyakannya, salah satu dari rombongan tersebut mengatakan bahwa orang yang selama ini selalu ditanyakan ada di perbatasan kota. Ketika mendengar jawaban tersebut, maka kedua sahabat Nabi ini segera pergi menemui Uwais Al-Qorni.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berada di depan kemah tempat Uwais berada, mereka memberi salam, dan tidak lama kemudian keluarlah Uwais Al-Qorni seraya menjawab salam sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, sewaktu bersalaman Sayyidina Umar r.a. dengan segera membalikkan telapak tangannya, untuk mengetahui kebenaran yang dikatakan oleh Nabi, dan ternyata tanda putih pada telapak tangan Uwais Al-Qorni itu benar serta wajahnya tampak bercahaya. Kemuadian kedua sahabat Nabi ini menanyakan namanya, maka dijawab nama saya <em>&#8220;Abdullah&#8221;.</em> Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan <em>&#8220;kami juga Abdullah [hamba Allah], tapi siapa nama yang sebenarnya&#8221;</em>. Kemudian dijawab <em>&#8220;Uwais Al Qorni&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pembicaraan, Uwais Al-Qorni menceritakan bahwa Ibunya telah meninggal dunia, karena itulah kini ia dapat ikut bersama rombongan kafilah dagang berkeliling mengunjungi negeri lain. Kemudian Sayyidina Umar dan Sayiidina Ali r.a. mohon agar Uwais Al-Qorni bersedia membacakan <em>do&#8217;a</em> dan <em>istighfar</em> untuk mereka berdua. Semula Uwais menolak dan berkata &#8220;<em>Sayalah yang seharusnya meminta do&#8217;a kepada kalian&#8221;.</em> Mendengar perkataan Uwais, kedua sahabat Nabi berkata <em>&#8220;Kami datang kesini untuk memohon do&#8217;a dan istighfar dari Anda&#8221;</em> Karena didesakan maka Uwais Al-Qorni pun mengangkat kedua tangannya untuk berdo&#8217;a dan membacakan istighfar bagi Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali r.a.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Uwais selesai membaca berdo&#8217;a, Sayyidina Umar r.a. berjanji akan menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Namun segera saja Uwais Al-Qorni menolak dengan berkata <em>&#8220;Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang, untuk hari-hari selanjutnya - biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi&#8221;</em>. Setelah itu merekapun berpisah dan saling mengucapkan salam. &#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahayakalbu.com/uwais-al-qorni-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

