thariqat

dzikir

Cahaya Kalbu

Hidup Jadi Hidup Bila Hati Kita Hidup

MUTIARA

Oleh : Bambang Dwi Atmoko

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an : ”Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. ? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”? [QS: ArRahmaan/ 55 : 19-23];

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”. [QS: Al-Furqaan/ 25: 53].

Secara umum setiap air sungai yang mengalir dan masuk ke laut, air sungai tersebut lambat laun akan berubah rasa dan warna mengikuti kadar air laut. Namun ada pertemuan dua laut yang airnya tidak saling bercampur dan menyatu mereka berdampingan bertingkat secara horizontal, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut diatas.

Adalah Prof. Dr. Muhammad Ibrahim as-Sumaih, seorang guru besar dari Universitas Qatar yang pada tahun 1984-1988 melakukan penelitian di Teluk Oman dan Teluk Persia. Dengan sebuah kapal peneliti, beliau menemukan sebuah area pada pertemuan kedua teluk tersebut yang disebut mixed water area yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut barzakh. Pada barzakh atau mixed water area tersebut terdapat dua tingkatan air. Pada area tingkat atas berasal dari teluk Oman yang memiliki air dengan rasa tawar dan segar, ini disebabkan air di teluk Oman tersebut berasal dari sungai yang besar. Kemudian pada area tingkat bawah berasal dari teluk Persia yang rasa airnya asin cenderung pahit. Garis pemisah tersebut berada pada kedalama antara 10 – 50 meter, horizontal dan tidak bercampur atau menyatu # “…dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi” [Al Furqaan: 53]. # Secara ilmiah, garis pemisah yang disebut barzakh yang memisahkan kedua tingkat pada mixed water area tersebut merupakan daya tarik yang stabil dari masing-masing air teluk, tentunya disebabkan oleh perbedaan yang mendasar dari kadar, temperatur dan jenis air. Pada area tingkat bawah yang memiliki air asin bahkan cenderung pahit, banyak ditemukan kerang yang menghasilkan mutiara bermutu tinggi.

Dalam kontemplasi tasawuf, ayat-ayat alqur’an tersebut memberi inspirasi kepada para ahli thariqat sebagai perumpamaan dalam meniti jalan suluk, sehingga ada pelajaran yang dapat dipetik dan dapat digunakan untuk meningkatkan amal ibadah khususnya thariqat :

Teluk yang berada di area tingkat atas yang berasal dari sungai memiliki air tawar yang segar dan mampu memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk. Sebagaimana amal syariat, sekiranya amalan ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dapat memberikan kesegaran, layaknya air tawar dan segar yang dapat melepaskan dahaga bagi yang sedang dilanda haus karena panasnya matahari dan dapat membersihkan bagi yang kotor. Sholat, dzikir, puasa, zakat dan haji membuat fisik, harta, dan jiwa pelakunya menjadi sehat wal,afiat serta akan memberi manfaat yang besar kepada makhluk lainnya sebagai dampak dari amalan syari’at tersebut.

Teluk yang berada di area tingkat bawah memilki air yang rasanya asin bahkan cenderung pahit, tentunya tidak dapat memberi kesegaran bagi orang yang sedang dilanda kehausan sebab air tersebut justru akan menambah haus bagi peminumnya bahkan membuat kerongkongan terasa seperti tercekik. Namun di dalam laut yang ber-air asin lagi pahit tersebut banyak terdapat kerang yang menghasilkan mutiara bermutu tinggi serta dapat disaksikan indahnya coral yang menghiasi dasar laut. Itulah gambaran amalan/ pekerjaan thariqat, banyak aral dan kesulitan yang akan menghadang serta kepahitan hidup yang akan kita alami. Sehingga tidak banyak orang yang berminat kepada ajaran thariqat, ditambah lagi keberadaan ilmu thariqah tersebut seperti tersembunyi (di dalam/ bersifat ruhani).

Apabila aliran sungai syari’ah telah bertemu dengan lautan thariqah maka munculah mutiara ma’rifah # ”Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” [Ar-Rahman: 22] # Di kawasan ini seorang hamba akan mengenal siapa dirinya, dia akan mengenal (dengan hatinya) Rabb yang selama ini disembahnya, ia akan merasakan betapa dekatnya Rabb dengan dirinya ia akan merasakan (dengan bathinnya, dengan sirrnya) semua sifat-sifat Allah. Meski lidahnya diam ia mampu merasakan nikmatnya dzikir, sebab hati dan sirr nya sudah terasah. Memang tidak mudah untuk mencapai kemampuan dzikir sirry tersebut, hanya dengan kemauan yang kuat dan istiqomah serta adanya rahmat Allah maka karuania keberkahan Allah akan datang.

Ingatlah janji Allah : “dan sekiranya mereka istiqomah di atas jalan itu (thariqat islam) maka benar-benar aku akan memberikan air yang segar (sebagai sumber kehidupan)” [Al Jin: 16]. Apabila seorang hamba istiqomah berada pada jalan/ thariqat maka Allah akan mencukupkan rejekinya yang Dia datangkan dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebab bila dzikir telah menjadi bagian dari hidup seorang hamba maka Allah akan menggerakan makhluk-makhluknya (Malaikat, Guru Mursyid dan Ikhwan), untuk membantu meraih manfaat dan kebaikan yang paling besar. Amin… amin… yaa robbal’alamin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PENTING: Komentar anda tidak akan langsung muncul karena kita periksa semua pesan sebelum penerbitan. Kami tidak menerbitkan komentar ofensif atau komentar yang mengiklankan produk atau jasa